RADAR PURWOREJO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) mendorong modernisasi alat pertanian untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Meski begitu, saat ini baru ada 17 gabungan kelompok tani (gapoktan) di Bantul yang memiliki mesin combine harvester.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul Joko Waluyo menyampaikan, kebutuhan mesin combine harvester di Bantul masih tinggi. Pada tahun ini, ada pengadaan enam unit mesin combine harvester. Sementara 2023, hanya ada 11 unit. Mesin combine harvester diharapkan dapat mempercepat pekerjaan petani. “Dari 75 gapoktan baru ada 17 yang punya,” katanya di sela kegiatan bantuan penyerahan alat pertanian di Kantor Kalurahan Sriharjo, Imogiri, Bantul kemarin (8/3).
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyebut, Pemkab Bantul berupaya agar seluruh gapoktan di Bumi Projotamansari dilengkapi dengan alat-alat pertanian. Namun secara bertahap. Sebab biayanya relatif mahal. “Satu combine harvester itu seharga lebih dari Rp 500 juta. Belum nanti ada traktor, rice transplanter, dan cultivator,” jelasnya.
Menurutnya, penggunaan mesin di pertanian menjadi kebutuhan. Sebab jumlah tenaga pertanian di Bantul menurun. Sementara mencari buruh tanam dan panen saat ini tidak mudah. Maka kelangkaan tenaga kerja harus diganti dengan mesin-mesin tersebut. “Faktanya itu lebih efisien untuk membayar tenaga dan mesin,” ungkap Halim.
Dia mengatakan, upaya intensifikasi ini menggerakkan dan memobilisasi mesin-mesin pertanian. meskipun saat ini lahan pertanian di Bantul kian menyempit. Namun dengan menerapkan teknologi, produksi pertanian mampu naik. Dari yang sebelumnya hanya 4 ton per hektare, kini mampu mencapai 8 ton per hektare. “Bahkan ada yang 10 ton. Hal itu terjadi karena peran teknologi yang masuk di dalam sistem pertanian, baik tanaman pangan maupun hortikultura,” ujar Halim.
Lurah Sriharjo Titik Istiyawatun menjelaskan, ada dua tipe lahan di Sriharjo. Yakni lahan padi di Sriharjo bagian barat, lalu lahan hortikultura di bagian timur. Namun lahan di bagian timur juga memanen padi setidaknya sekali dalam setahun.
Pemberian mesin combine harvester oleh Pemkab Bantul sendiri diharapkan bermanfaat bagi petani. Sebab mayoritas lahan di Sriharjo adalah padi. Tidak ada palawija karena kualitas airnya baik. Sehingga butuh alat yang bisa lebih mengevektifkan produksi yang dilakukan petani. “Meskipun nanti harus diimbangi dengan peningkatan kualitas produksi pertanian,” jelasnya.
Mesin combine harvester itu nantinya akan dikelola secara khusus oleh gapoktan. Kalurahan nantinya akan melakukan pendampingan. Kemudian melakukan upaya promosi karena belum banyak yang memiliki mesin tersebut. “Harapannya tidak hanya di Sriharjo, tapi juga melayani petani di sekitar Sriharjo dan bisa melebar ke mana-mana,” harap Titik. (tyo/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova