RADAR PURWOREJO - SD Negeri Pojok Sleman terus berupaya mengimplementasikan sekolah inklusi. Meskipun bukan termasuk sekolah luar biasa (SLB), namun tetap bisa mengakomodasi pendidikan anak berkebutuhan khusus. Dibuktikan dengan semua jenjang kelas, memiliki siswa berkebutuhan khusus.
"Setiap kelas ada anak ABK-nya, antara dua sampai tiga siswa. Saat ini ada 13 ABK di sekolah kami," kata guru PJOK SD Negeri Pojok Aryati Senin (18/3).
Langkah ini diambil oleh sekolah karena banyaknya permohonan orang tua dengan anak ABK Di Sleman. Dia pun berharap, sekolah inklusi di wilayah DIJ bisa terus bertambah. Baik dari kuantitas sekolah, hingga guru dengan latar belakang pendidikan khusus menangani ABK.
Saat ini, sekolahnya pun hanya memiliki satu guru pendamping khusus dengan latar belakang pendidikan luar biasa (PLB). Itu pun kiriman dari Dikpora DIJ. Dan guru tersebut, hanya mengajar satu hari dalam satu minggu. "Padahal tenaga dan sumbangsihnya sangat kami butuhkan," serunya.
Untuk menambah guru serupa, Aryati mengaku, hal itu itu sulit dilakukan. Sebab gaji guru baru akan dibebankan kepada sekolah. “Jujur saja itu hal yang berat," ungkapnya.
Untuk skema di SD Negeri Pojok sendiri, Aryati menyebut bahwa asesmen terhadap ABK baru dilakukan saat mereka kelas 2. Padahal, asesmen harusnya bisa dilakukan lebih awal saat siswa mendafta. Hal tersebut penting dilakukan untuk segera mengetahui kategori ABK yang dialami oleh sang anak.
"Itu berdampak pada cara pendekatan dan pembelajaran ke depannya pada si anak, jadi kami bisa pantau kategori ABK dan statusnya," tuturnya.
Dalam prosesnya, SD Negeri Pojok juga bisa merekomendasikan kepada orang tua. Terkait kategori dan status ABK saat cukup serius dan perlu pendampingan khusus. "Kalau kondisinya serius kami imbau menyekolahkan anaknya di SLB," tandasnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova