RADAR PURWOREJO - Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ mencatat sudah ada 194.468 kendaraan yang keluar DIJ kemarin (7/4). Sedangkan kendaraan yang masuk hanya mencapai 171.892 unit.
Plh Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ Sumariyoto mengatakan, paling banyak kendaraan keluar melalui pintu timur yaitu Prambanan sejumlah 29.443 kendaraan. Sementara kendaraan yang masuk dari pintu yang sama sejumlah 19.851 kendaraan.
"Kendaraan pribadi lebih banyak keluar dengan total 194.468 kendaraan. Sedangkan kendaraan yang banyak masuk itu lewat pintu barat yaitu di Wates, ada sebanyak 11.848 kendaraan masuk dibanding kendaraan keluar hanya 9.998 kendaraan," bebernya kemarin.
Sementara, kendaraan keluar lebih banyak juga terjadi melalui pintu selatan yaitu Piyungan berjumlah 14.323 kendaraan. Untuk kendaraan yang masuk sebanyak 11.602 kendaraan. Kemudian lewat pintu Tempel, juga terjadi lebih banyak kendaraan keluar hingga 16.402 unit. Sedangkan kendaraan yang masuk berjumlah 15.522.
"Kebanyakan kendaraan yang keluar DIJ itu menggunakan mobil sebanyak 30.353 unit," ujarnya.
Oyot merinci, urutan kedua kendaraan yang keluar DIJ adalah menggunakan sepeda motor sebesar 27.698 unit. Ketiga angkutan umum berupa bus sebanyak 6.178 unit, serta truk sebanyak 5.937 unit.
Sedangkan kebanyakan kendaraan masuk DIJ juga roda empat atau mobil sebanyak 24.958 unit, dan sepeda motor 18.530 unit. Kemudian urutan ketiga kendaraan yang masuk DIJ yaitu truk sebanyak 9.779 unit serta 5.556 untuk bus.
"Kalau diprosesntase berdasar data harian angkutan umum lebih banyak yang datang sebesar 51,3 persen daripada yang berangkat 48,7 persen," jelasnya.
Pun berdasar data pemudik dengan angkutan umum yang masuk DIJ lebih banyak daripadaya yang keluar yaitu sebanyak 74.801 penumpang. Sedangkan penumpang atau pemudik keluar DIJ sebanyak 70.980 penumpang.
Terpisah, Kepala Dishub DIJ Ni Made Dwipanti Indrayanti menambahkan, sementara untukmengantisipasi kepadatan lalu lintas di sejumlah area masuk, Dishub DIJ menerapkan strategi mempercepat kendaraan di jalur keluar dan memperlambat jalur masuk kendaraan ke wilayahnya.
Pengalihan kendaraan lewat jalur alternatif bagi mereka yang tidak masuk ke wilayah kota juga dirasa belum efektif untuk mengurai kepadatan lalu lintas. Sebab, tidak ada yang tahu tujuan pemudik apakah berwisata atau menang benar-benar mudik.
"Tapi kami tetap infokan jalur alternatif yang kami rekomendasikan," sebutnya. (wia/eno)
|
|
|
Editor : Sevtia Eka Nova