Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Ada 108 Kasus, Penderita DBD di Sleman Mayoritas Usia Produktif

Iwan Nurwanto • Sabtu, 20 April 2024 | 17:00 WIB

 

 

Ilustrasi gambar orang terkena DBD.(Website/Jawa Pos)
Ilustrasi gambar orang terkena DBD.(Website/Jawa Pos)

RADAR PURWOREJO - Temuan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sleman hingga pertengahan April ini mencapai 108 kasus. Ratusan kasus itu, mayoritas menyerang masyarakat usia produktif. 

 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman Khamidah Yuliati mengatakan, sebanyak 83 kasus di antaranya menyerang masyarakat usia produktif dengan mobilitas tinggi.

 

Yuli sapaanya menjelaskan, usia produktif yang dimaksud dibedakan dengan dua kategori. Mulai dari usia 6-18 tahun dengan 44 kasus. Kemudian 26 kasus di antaranya berjenis kelamin laki-laki dan 18 orang perempuan.

 

Serta kategori usia 19-44 dengan temuan 39 kasus. Yakni 19 kasus di antaranya berjenis kelamin laki-laki dan 20 kasus merupakan perempuan. “Untuk kasus DBD meninggal dunia ada satu kasus di Kapanewon Sleman. Semoga tidak ada lagi penambahan,” harap Yuli saat dikonfirmasi kemarin (19/4).

 

Menurut dia, upaya pencegahan terjadinya peningkatan kasus DBD di Sleman bisa dilakukan oleh masyarakat. Di dengan melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

 

Di samping itu, Dinkes Sleman juga terus mengoptimalkan peran kader-kader jumantik yang sudah ada pada tiap rumah. Sehingga kemudian, pencegahan penyakit demam berdarah di Sleman dapat lebih optimal.

 

“Dengan berbagai upaya PHBS dan PSN harapannya dapat menekan kasus DBD,” ungkap Yuli.

 

Terpisah, Ketua Komisi D DPRD Sleman M Arif Priyo Susanto turut menyoroti banyaknya kasus DBD di Bumi Sembada. Dia berharap Pemkab Sleman bisa bergerak cepat menekan peningkatan penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti tersebut.

 

Priyo menyatakan, bahwa instansi terkait juga perlu mencari penyebab utama kenaikan kasus DBD di Sleman. Apakah dikarenakan kondisi cuaca atau dampak dari sampah yang terlalu banyak tertimbun yang kemudian memunculkan tempat-tempat berkembangnya nyamuk.

 

Politisi Gerindra itu pun berharap, agar program Wolbachia perlu dilanjutkan karena terbukti efektif mencegah penyebaran DBD.  Di samping itu,  juga perlu adanya kesadaran dari masyarakat. Serta sosialisasi yang masif dari pemerintah terkait dengan pencegahan DBD.

 

“Tidak hanya dinkes tetapi semua dinas bergerak. Termasuk dinas pendidikan di sekolah-sekolah, dinas PU memperbaiki drainase, DLH juga. Serta semua dinas-dinas yang lain,” tegas Priyo. (inu/eno)

 

Editor : Sevtia Eka Nova
#DBD Sleman #usia produktif