Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Lepasliarkan Burhan Tyto Alba dari Sukoharjo untuk Berburu Tikus di Empat Kapanewon di Gunungkidul

Yusuf Bastiar • Selasa, 1 Juli 2025 | 13:00 WIB
Rismiyadi sedang melepas burung Tyto Alba di area persawahan Kalurahan Ganjahan Kapanewon Ponjong, Gunungkidul.   
Rismiyadi sedang melepas burung Tyto Alba di area persawahan Kalurahan Ganjahan Kapanewon Ponjong, Gunungkidul.  

 

 

 

GUNUNGKIDUL - Dinas Pertanian Gunungkidul melepasliarkan 20 ekor burung hantu (burhan) jenis Tyto Alba. Hal itu sebagai upaya pengendalian hama tikus di lahan pertanian. Pelepasan dilakukan di empat Kapanewon, yakni Ngawen, Nglipar, Semin, dan Ponjong.

Kepala Dinas Pertanian Gunungkidul Rismiyadi, menjelaskan, burung hantu tersebut didatangkan dari wilayah Sukoharjo, Jawa Tengah. Sedang alasan pemilihan lokasi pelepasliaran, karena di sejumlah lokasi sasaran terdapat potensi serangan hama tikus yang tinggi. “Burung hantu Tyto alba memiliki daya jelajah yang tinggi,” ujar Rismiyadi Senin, (30/6).

Diketahui burung hantu Tyto Alba tersebut bisa menjangkau area 10 kilometer dari sarangnya. Menurutnya, ini sangat cocok dikembangkan di wilayah pertanian. Bahkan, dalam satu malam, satu ekor Tyto Alba bisa memangsa hingga lima ekor tikus.

Sebagai bentuk dukungan terhadap program ini, Dinas Pertanian juga menyiapkan rumah singgah atau tempat tinggal bagi burung hantu di dekat lahan pertanian.

“Kami juga melibatkan pemerintah kalurahan agar membuat aturan yang melindungi burung hantu dari perburuan warga,” tambahnya.

Ia menegaskan, wilayah pelepasan merupakan sentra tanaman padi, di mana tikus merupakan salah satu hama utama. Dengan menghadirkan predator alami, Rismiyadi berharap populasi tikus dapat ditekan secara ekologis.

Sebab, bagi Rismiyadi dengan memanfaatkan potensi alami seperti burung hantu dapat mengurangi penggunaan racun tikus berbahan kimia. Sehingga, kondisi lahan pertanian lebih lestari.

“Metode seperti aliran listrik atau pengobatan kimia tidak kami gunakan karena berisiko bagi manusia dan lingkungan,” tutur Rismiyadi. (cr1/pra)

Editor : Heru Pratomo
#burung hantu #tikus #BURHAN #Jawa Tengah #Tyto Alba #Gunungkidul #sukoharjo #hama