JOGJA – Pada 2015 lalu Pemkot Jogja pernah melarang bus besar masuk kawasan Njero Beteng Kraton, Jogja. Sepuluh tahun berselang, aturan yang sama kembali ditegakkan. Jadi bagian dari pembatasan aktivitas kendaraan besar masuk wilayah Kota Jogja.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Jogja Agus Arif Nugroho mengatakan, pembatasan kendaraan besar masuk ke jalan perkotaan dilakukan secara bertahap. “Tahap awal menyasar kawasan cagar budaya,” ungkapnya, Selasa (16/9).
Dimulai di Simpang Tamansari, Plengkung Gading, Jalan Pangurakan dan Jalan Ibu Ruswo yang merupakan akses menuju Njero Beteng. Pada ruas jalan tersebut juga sudah dipasang rambu larangan.
Arif menegaskan, kebijakan tersebut tidak hanya berlaku bagi bus-bus pariwisata. Namun juga kendaraan seperti truk tronton dan kendaraan konstruksi. Termasuk kendaraan lain yang memiliki lebar lebih dari lima meter. “Kendaraan besar akan kami kelola, karena Kota Jogja ini kecil dan jalannya sempit lalu juga ada bangunan heritage yang harus dilindungi,” ujar Agus.
Mantan Camat Gondomanan itu mengaku, pihaknya sudah berkoordinasi dengan aparat kepolisian untuk menerapkan aturan tersebut. Penggemar gowes itu pun memastikan, pelarangan kendaraan besar itu juga untuk mendukung rencana Terminal Giwangan sebagai pusat parkir bagi bus-bus pariwisata.
“Pokoknya di tengah kota nanti kami kurangi secara bertahap beban terhadap kendaraan besar,” jelasnya.
Sebelumnya, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyampaikan, memang tengah menyempurnakan Terminal Giwangan sebagai pusat parkir bus pariwisata. Fungsionalnya di target tahun depan. Hasto menjelaskan, bentuk penyempurnaan terminal dengan luas 3.500 meter persegi itu berupa renovasi sebanyak 68 kios. Kemudian juga perbaikan saluran drainase, perbaikan kios, dan perbaikan jalan atau paving.
Dia menjelaskan, wisatawan yang menggunakan bus besar dan parkir di Terminal Giwangan akan disediakan bus shuttle. Sehingga tetap bisa menuju kawasan pusat kota kawasan Malioboro dan Titik Nol. “Harapannya bus-bus besar tidak lagi terpusat di kawasan padat kendaraan seperti tengah kota,” katanya. (inu/pra)
Editor : Heru Pratomo