BANTUL – Prosesi pemakaman Raja Keraton Surakarta Hadiningrat, Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono (PB) XIII, berlangsung khidmat di Makam Raja-Raja Mataram Imogiri, Kabupaten Bantul, , Rabu (5/11).
Sejak pagi, kawasan perbukitan Pajimatan Imogiri telah dipadati abdi dalem, kerabat keraton, dan masyarakat yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada raja Kasunanan Surakarta tersebut. Aroma dupa dan kemenyan berpadu dengan suasana haru saat jenazah PB XIII tiba di kompleks pemakaman sekitar pukul 12.35, dikawal iring-iringan patwal dari Keraton Surakarta.
Bus jenazah berhenti di Bale Paleraman, tempat dilakukan prosesi awal. Peti jenazah, payung kebesaran, foto PB XIII, serta dua nisan kayu dikeluarkan dari mobil. Para abdi dalem Surakarta bersama pasukan Lombok Abang menyiapkan tandu untuk mengusung peti menuju area pemakaman.
Ratusan warga, mulai dari pelajar hingga orang dewasa, memadati area sekitar kompleks makam. Ada yang menunggu di tepi sungai, ada pula yang duduk di tangga panjang menuju pemakaman. Setelah jenazah ditandu oleh sekitar 20 pasukan Lombok Abang, dilakukan prosesi serah terima jenazah dari pihak keluarga Keraton Surakarta kepada pihak Pajimatan Imogiri.
“Jenazah dipegang oleh Senopati Lampah, kemudian diserahterimakan kepada saya sebagai Bupati Pajimatan Imogiri,” jelas Bupati Pajimatan Imogiri Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Joyo Adilogo, saat ditemui di Bale Paleraman.
Dalam prosesi itu, Senopati Lampah membawa foto PB XIII berhias bunga melati, nisan kayu, dan payung jenazah. Di belakangnya, 32 bragada dari Keraton Surakarta berjalan berbaris membawa pedang, mengenakan pakaian hitam, biru, dan hijau. “Setelah penyerahan di Bale Paleraman, jenazah diangkat ke Masjid Dalem Kagungan Pajimatan untuk disalatkan,” tambahnya.
Rombongan kemudian menaiki tangga batu menuju masjid. Para bragada membentuk barisan kehormatan, diikuti warga yang turut berjalan di belakang. Setelah disalatkan, jenazah diusung menuju Kedaton Girimulyo, tempat peristirahatan terakhir para raja Mataram.
PB XIII dimakamkan sementara di kompleks makam PB XII, ayahandanya. “Kompleks pemakaman khusus untuk PB XIII masih dalam tahap pembangunan di sebelah barat makam PB XII,” ujar KPH Joyo Adilogo.
Untuk menjaga kekhusyukan, Pajimatan membatasi akses ke Bangsal X dan area kedaton hanya bagi keluarga dan abdi dalem. “Kami khawatir jika terlalu ramai, prosesi terganggu. Masyarakat bisa menyaksikan dari luar tangga,” ujarnya.
Suasana di kawasan Pajimatan terasa hening dan penuh penghormatan. Di bawah naungan pohon-pohon tua dan semilir angin lembah Imogiri, tandu berhias kain putih itu perlahan naik menapaki ratusan anak tangga, jalur sakral yang disebut sebagai jalan kehormatan para raja Mataram. “Untuk raja, jalur utama ini wajib dilalui. Peziarah biasa biasanya lewat jalur alternatif,” tutur Erik, pemandu wisata di kawasan Pajimatan.
Baca Juga: Tiga Rekomendasi Destinasi Wisata Embung di Temanggung Jawa Tengah Yang Wajib Dikunjungi
Dari Keraton Jogja, Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH) Yudhaningrat turut hadir memberikan penghormatan. Ia mengenang PB XIII sebagai sosok yang baik, tenang, dan dekat dengan masyarakat. “Beliau orangnya halus dan penuh kebijaksanaan. Harapannya, pemakamannya berjalan lancar,” ujarnya.
Gustu Yudha juga menitip pesan bagi penerus tahta Keraton Surakarta. “Seorang raja itu harus mampu menjaga keseimbangan antara lahir dan batin, dunia dan akhirat. Solo dan Jogja ini ibarat dua sisi yang harus seimbang,” katanya.
Menurutnya, raja yang baik bukan hanya menjadi pemimpin adat, tetapi juga pembimbing spiritual bagi rakyatnya agar mencapai keselamatan dunia dan akhirat.
Sementara itu, Staf Sasono Wilopo Keraton Surakarta, KP Suswanto Hadiningrat, menyampaikan rasa syukur karena seluruh prosesi berjalan lancar. “Sejak dari pemberangkatan di Surakarta hingga sampai di Pajimatan, semua berjalan sesuai rencana,” ujarnya.
Ia menilai, besarnya antusiasme masyarakat membuktikan bahwa PB XIII masih sangat dihormati dan dicintai. “Dari Solo sampai Imogiri, dukungan sosial luar biasa. Kami bersyukur beliau begitu dicinta masyarakat,” katanya.
Prosesi pemakaman ini menjadi simbol bahwa adat dan tata cara Jawa masih dijunjung tinggi. “Semoga tradisi ini terus dijaga dan dilestarikan, agar menjadi teladan bagi generasi mendatang,” tutup Suswanto.
Menjelang sore, keheningan Imogiri menyelimuti peristirahatan terakhir sang raja. Dalam kesederhanaan prosesi dan khidmatnya suasana, masyarakat menyaksikan babak baru sejarah Kasunanan Surakarta, ketika PB XIII “kondur” ke pangkuan leluhur di puncak bukit Pajimatan Imogiri. (cin/mg9/pra)
Editor : Heru Pratomo