GUNUNGKIDUL – Nelayan di pesisir selatan Gunungkidul hanya bisa pasrah. Karena di saat musim tangkap lobster tiba, cuaca ekstrem melanda dalam beberapa hari terakhir. Hal ini berdampak langsung pada aktivitas nelayan di Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari. Angin kencang dan hujan deras membuat sebagian besar nelayan memilih berhenti sementara melaut demi keselamatan.
Ketua Kelompok Nelayan Pantai Baron Sumardi mengatakan, kondisi cuaca tidak menentu sudah terjadi sejak akhir Oktober. Perubahan cuaca yang ekstrem di laut dan darat membuat para nelayan sulit memprediksi waktu yang aman untuk menangkap ikan. Kendati dua hari terakhir di wilayah Kalurahan Kemadang tidak diguyur hujan, kata dia, hembusan angin selatan sangat kencang.
Baca Juga: Siaga Masa Transisi Paku Buwono XIII, Aparat TNI dan Polri Amankan Keraton Surakarta
“Hujan juga sering turun, jadi berhenti sementara untuk menangkap ikan. Padahal sekarang sedang musim lobster di perairan Baron,” ujar Sumardi kepada wartawan pada Jumat, (7/11).
Menurut Sumardi, keputusan menghentikan aktivitas penangkapan ikan di laut semata-mata demi keselamatan para nelayan. Sembari menunggu kondisi membaik, sebagian nelayan memanfaatkan waktu untuk memperbaiki alat tangkap. “Kalau berhenti melaut di awal pekan biasanya kami bertani, tapi kalau akhir pekan ya mencari rezeki dari wisatawan yang datang ke pantai,” tambahnya.
Ia mengakui, cuaca buruk tidak hanya mengganggu aktivitas melaut, tetapi juga berdampak pada hasil tangkapan yang menurun drastis dalam beberapa waktu terakhir. “Hasil tangkapan menurun, otomatis pendapatan kami juga berkurang,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Gunungkidul Johan Wijayanto membenarkan adanya nelayan Baron yang menghentikan aktivitas melaut karena cuaca ekstrem. Berdasarkan informasi dari BMKG, saat ini kondisi laut di wilayah selatan DIJ sedang tidak bersahabat.
Meski demikian, aktivitas di sejumlah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Gunungkidul, seperti TPI Drini dan TPI Baron, masih mencatat adanya hasil tangkapan lobster dalam dua hari terakhir. “Gelombang tinggi memang membuat hasil tangkapan ikan lain menurun, tetapi munculnya lobster menjadi kabar baik bagi sebagian nelayan,” tegasnya.
Baca Juga: Ini Dia Kelezatan Kuliner Sroto Sokaraja Khas Daerah Banyumas
Lobster laut umumnya hidup di kawasan berbatu dan karang, serta aktif pada malam hari. Namun kondisi perairan yang bergelombang tinggi tetap menjadi ancaman bagi nelayan yang nekat melaut di tengah cuaca ekstrim.
Dengan situasi yang belum stabil ini, pihaknya terus terus mengimbau agar nelayan lebih waspada dan memprioritaskan keselamatan hingga kondisi laut kembali aman untuk aktivitas penangkapan.“Keputusan melaut harus diambil ketika cuaca betul-betul mendukung,” imbuhnya. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo