BANTUL - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul kembali mengajukan 12 Early Warning System (EWS). Masing-masing berupa empat EWS longsor, dan sembilan lainnya adalah EWS banjir.
Kepala BPBD Bantul Mujahid Amrudin mengatakan, EWS longsor untuk pengajuan baru untuk wilayah Srimartani, Wonolelo, Munthuk, dan Selopamioro. Namun titiknya masih menunggu survei lokasi tahun depan.
Sementara EWS banjir, menyasar Kalurahan Sendangsari di Jembatan Benyo, Guwosari di Jembatan Dzikrul Ghofilin, dan Pleret di Jembatan Gayam. Kemudian Kalurahan Selopamioro di Jembatan Kedungjati dan Jembatan Lemah Rubuh, Sanden di Jembatan Kiringan, Imogiri di jembatan timur Pasar Imogiri, dan Sriharjo di Jembatan Pengkol.
Dalam pengajuannya ia pun memastikan tidak ada kendala yang berarti dalam mengajukan EWS longsor ke pemerintah pusat. “Pemerintah pusat semoga respons tercepatnya paling tidak di tahun 2026 kemungkinan ada anggarannya,” katanya.
Sementara Staf Pusdalops PB BPBD Bantul Nur Eta Efendi mengatakan, saat ini EWS longsor masing-masing berada di Srimulyo, Wonolelo, Selopamioro, dan Munthuk. Kemuidan dua EWS lain di Wukirsari.
Meski demikian, pengecekan EWS baru dilakukan di Nglingseng, Munthuk, Dlingo Minggu (30/11). Hasilnya, perangkat EWS yang dicek ditemukan dalam kondisi rusak dan belum diperbaiki. Namun, ke depan BPBD Bantul akan melakukan pengecekan EWS longsor lainnya untuk memastikan fungsinya dapat berjalan dengan baik.
“Potensi longsor di situ (Nglingseng, Red) juga tinggi memang karena perbukitan di bawahnya ada permukiman warga,” jelasnya saat dihubungi lewat telepon Senin (1/12).
Mengantisipasi bencana longosr, lanjut Eta, BPBD Bantul sudah menetapkan status siaga bencana sejak awal November. Penetapan dilakukan melalui instruksi bupati Bantul. “Sudah mengaktifkan pos siaga darurat di kalurahan,” jelasnya.
Sebelumnya Staf Pengolah Data dan Informasi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Budianta menjelaskan, idealnya Bantul harus memiliki 12 EWS banjir. Namun, wilayah ini baru memiliki satu EWS banjir di Sungai Celeng sejak 2023. Lokasi ini dipilih karena banjir pernah terjadi pada 2017.
Kini, upaya penambahan 11 EWS tengah dilakukan. Masing-masing dua unit di Sungai Winongo, dua unit di Sungai Bedhog, dua unit di Sungai Gajah Wong, dua unit di Sungai Opak, satu unit di Sungai Celeng, dan dua unit di Sungai Code.
Pengajuan penambahan EWS banjir sejatinya sudah dilakukan sejak 2024. Karena pengajuan danais berlaku dua tahun sebelumnya, dia berharap bisa lolos pada 2026. “Ternyata belum lolos, maka harapannya 2027 bisa direalisasikan,” katanya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova