JOGJA - Di tengah maraknya isu deforestasi di Indonesia, upaya memulihkan ekosistem hutan ternyata masih terus berjalan.
Salah satunya terlihat dari kemajuan signifikan program restorasi di Swaka Margasatwa (SM) Paliyan, Gunungkidul, yang telah digarap selama dua dekade.
Selama 20 tahun terakhir, kawasan konservasi ini menjalani proses penghijauan intensif yang melibatkan banyak pihak. Mulai akademisi Fakultas Kehutanan UGM, Pemprov DIY, Pemkab Gunungkidul, kelompok masyarakat sekitar, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), hingga perusahaan asuransi Mitsui Sumitomo dari Jepang.
Mereka bekerja bersama memulihkan lahan karst yang telah gersang akibat penebangan liar pascareformasi 1998.
"Kami memulai rehabilitasi SM Paliyan pada 2005, kawasan karst dengan daya resap air yang tinggi, yang awalnya dianggap sulit dilakukan penghijauan," ujar Direktur Perwakilan, Presiden, CEO Mitui Sumitomo Insurance Co., Ltd saat ditemui dalam acara peringatan 20 tahun proyek restorasi ekosistem SM Paliyan di Yogyakarta, Kamis (4/12/2025).
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengucapkan bela sungkawa atas musibah bencana alam yang terjadi di Sumatera.
Ia berkomitmen untuk mendukung segala bentuk pemulihan dalam aspek restorasi ekosistem. Seperti halnya yang dilakukan di SM Paliyan yang bisa terlaksana karena bantuan dari masyarakat setempat.
Baca Juga: Kolam Renang Gladiool Segera Beroperasi, Damar Siapkan Fasilitas dan Ikon Baru Kota Magelang
"Setiap hari masyarakat dan tim menyirami dan menanam pohon, kini sudah banyak yang tumbuh dan hijau kembali," bebernya.
Selama 20 tahun, di lahan seluas lebih dari 450 hektare itu telah berhasil ditanami lebih dari 700 ribu pohon yang terdiri dari 25 jenis.
Program terbagi menjadi lima tahap yakni 2005-2011, 2011-2016, 2017-2021, 2021-2024 dan 2024-2027.
"Kami yakin, kesadaraan akan kelestarian alam dan sadar menanam menjamin masa depan dunia, bukan hanya Jogja ataupun Indonesia," jelasnya.
Baca Juga: Perbaikan Akses Jalan Darat di Sumatera Barat Jadi Prioritas Pascabencana, Ini yang Dikerjakan
Mereka juga belajar banyak hal dari perjalanan panjang proyek penghijauan tersebut. Hubungan masyarakat tidak bisa dipisahkan dengan alam, mereka menggantungkan hidup dari hutan tempat mereka tinggal.
"Generasi muda terus bertambah berpartisipasi dalam proyek ini, mengambil peran dan sadar bahwa hidup berdampingan dengan alam. Hutan sana saat ini sangat lebat, saya sangat senang melihat hutan yang lebat dan sangat lestari," teragnnya.
Baca Juga: Hukum Membaca Doa Iftitah, Sunnah atau Wajib? Simak Penjelasannya
Sekretaris Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Kemterian Kehutanan Ammy Nurwati mengatakan, lahan seluas 392 hektare di SM Paliyan telah dipulihkan melalui penanaman sebanyak 771 ribu batang pohon dari jenis multipurpose tree species dan juga jenis lokal khas. Kesuksesan pengembalian ekosistem dilihat dari munculnya satwa Paliyan.
"Adanya 41 jenis aves, 5 jenis mamalia, 13 jenis herpetofauna, 65 jenis kupu-kupu dan 19 jenis capung," ujarnya.
Keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga oleh manfaat ekologis yang kembali pulih, mulai dari ketersediaan air bersih hingga fungsi hutan sebagai paru-paru dunia.
Baca Juga: Direktorat Kepolisian Udara Polri Bantu Tim Ferry Irwandi Menyalurkan Bantuan Ke Titik Bencana Sumatera
Wakil Dekan Fakultas Kehutanan UGM Ir. Dwiko Budi Permadi menambahkan proyek SM Paliyan sejarahnya persis seperti saat UGM membangun hutan Wanagama pada tahun 1960. Lokasi keduanya juga berada di Gunungkidul.
"Transisi hutan yang tadinya gundul menjadi hijau," ujarnya.
Ia selalu mendukung berbagai program penghijauan hutan sebagai bentuk merawat alam demi masa depan. Fakultas Kehutanan UGM mencatat telah melakukan sebanyak 61 penelitian selama 20 tahun proyeks restorasi itu berjalan.
"Riset tentang pengelolaan hutan, konservasi dan sebagainya," paparnya. (oso)