GUNUNGKIDUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul menegaskan komitmennya menjadikan Pantai Sepanjang sebagai ruang publik yang terbuka dan ramah wisatawan. Area bibir pantai tidak boleh dikuasai secara pribadi, termasuk dengan praktik pengkaplingan melalui penyewaan tikar dan payung yang selama ini kerap ditemui.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PUPRKP) Gunungkidul Rakhmadian Wijayanto menegaskan, Pantai Sepanjang merupakan milik publik yang harus dapat diakses secara bebas oleh semua pengunjung.
“Pinggir pantainya harus menjadi area terbuka, tidak boleh dikapling atau dikuasai secara pribadi. Yang dikuasai hanya warungnya saja,” tegas Rakhmadian saat dikonfirmasi Jumat (2/1).
Dia menjelaskan, pengelolaan kawasan Pantai Sepanjang ke depan akan dipimpin langsung oleh Dinas Pariwisata Gunungkidul. Langkah ini diambil untuk memastikan peningkatan jumlah kunjungan wisata sekaligus mendorong pemberdayaan pelaku UMKM setempat.
Dari sisi infrastruktur, kata dia, Pemkab Gunungkidul telah merampungkan rekonstruksi jalan kabupaten ruas 1712 atau ruas lingkar Pantai Sepanjang.
Proyek yang dibiayai melalui APBD Perubahan 2025 senilai Rp 1,5 miliar tersebut berupa pembangunan jalan aspal sepanjang 552 meter dengan lebar 5 meter, yang diselesaikan dalam waktu 63 hari kalender. Selain jalan, pemerintah juga telah membangun 109 kios sebagai lokasi relokasi pedagang dengan total nilai investasi mencapai Rp 399,7 juta. Kios-kios ini disiapkan sebagai bagian dari penataan kawasan agar lebih tertib dan nyaman.
“Penataan akan kami lanjutkan pada tahun ini, melengkapi fasilitas pendukung seperti wastafel dan saluran air bersih yang akan dikolaborasikan dengan PDAM, serta bangunan dengan nuansa merah putih,” bebernya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul Eko Nur Cahyo menyampaikan, pihaknya telah menggunakan momentum perayaan malam tahun baru untuk meluncurkan wajah baru pariwisata Gunungkidul bertajuk The Vibes of Paradise. Peluncuran tersebut ditandai dengan selesainya pembangunan tahap awal sarana fisik di kawasan Pantai Sepanjang.
“Pembangunan ini bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi upaya strategis untuk meningkatkan keterhubungan akses ekonomi sekaligus kenyamanan wisatawan,” jelas Eko.
Dia menambahkan, penataan kawasan ditargetkan tuntas secara bertahap. Per 7 Januari mendatang, area bibir pantai diharapkan sudah bersih dari kios, dengan seluruh pedagang direlokasi ke lapak yang lebih layak dan tertata. Peresmian kios-kios baru tersebut diharapkan menjadi ruang tumbuh bagi UMKM dan pelaku wisata lokal agar dapat berkembang secara berkelanjutan.
Menurutnya, branding The Vibes of Paradise sendiri merepresentasikan harmoni antara alam, budaya, dan kenyamanan yang ingin ditawarkan kepada wisatawan nusantara maupun mancanegara. Ia menyebut, ke depan, Pantai Sepanjang akan dijadikan contoh kawasan pantai yang ramah wisatawan dan tertata baik. Sekaligus menjadi model penataan destinasi wisata lainnya di Gunungkidul.
Di era digital, lanjutnya, citra wisata sangat bergantung pada kenyamanan pengunjung. Karena itu, pemerintah berkomitmen menghapus praktik pungutan liar. “Maupun biaya sewa yang tidak transparan yang dapat merusak reputasi daerah,” tegasnya. (bas/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova