BANTUL - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Bantul mencatat hanya ada 12 perpustakaan yang aktif di tingkat kalurahan. Sementara Bumi Projotamansari memiliki 75 kalurahan.
Kepala Dispusip Bantul Dian Mutiara Sri Rahmawati menyebut, untuk kalurahan kondisinya beragam. Sebanyak 26 kalurahan memiliki perpustakaan semiaktif, 33 kalurahan tidak aktif, dan empat kalurahan belum mempunyai perpustakaan. "Memang kalurahan yang mempunyai perpus masih sangat minim," jelasnya Kamis (8/1).
Dinasnya, akan melakukan kunjungan sebulan sekali di perpustakaan tingkat kalurahan. Harapannya cara ini dapat mengaktifkan kembali perpustakaan yang ada. "Nanti akan kita cek kesiapan perpustakaan sudah sampai mana," katanya.
Dia menyebut, Padukuhan Siluk 1, Selopamioro, Imogiri baru saja meresmikan Perpustakaan Narasi pada Selasa (6/1). "Perpustakaan itu diinisiasi oleh mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) yang ada di kalurahan tersebut," katanya.
Perpustakaan Narasi ini, berada di rumah RT yang ada di Padukuhan Siluk 1. Penempatan perpustakaan di rumah tersebut, dinilai strategis. Sebab, tempat tersebut sering dijadikan tempat berkumpul seperti, pusat komunitas, acara pertemuan, dan pelatihan.
Menurutnya, penguatan perpustakaan kalurahan sejalan dengan misi Bupati Bantul Abdul Halim Muslih. Yakni mewujudkan transformasi sumber daya manusia menuju masyarakat yang tangguh, produktif, dan berdaya saing.
Salah satu aspek penting dalam mewujudkan hal tersebut adalah peningkatan pengetahuan masyarakat. Terlebih pendidikan merupakan kewenangan wajib dasar pemerintah.
Dispusip Bantul, lanjutnya, mendukung penguatan literasi sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat.
Sebab perpustakaan tidak hanya menyediakan buku pelajaran sekolah. Tetapi juga berbagai buku pengetahuan dan teknis, seperti pertanian, keterampilan memasak, hingga keterampilan praktis lainnya.
“Koleksi buku yang beragam di perpustakaan diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat, sehingga pengetahuan yang diperoleh bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” urainya.
Selain itu, keberadaan perpustakaan di tingkat kalurahan juga diharapkan menjadi salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap gawai.
Dia menilai, maraknya penggunaan media sosial di kalangan anak perlu diimbangi dengan alternatif kegiatan positif. Salah satunya melalui penyediaan buku cerita dan bacaan edukatif. “Tujuan akhirnya adalah mendukung upaya mencerdaskan masyarakat Bantul melalui penguatan literasi di perpustakaan,” tandasnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova