JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY menemukan 453 kasus leptospirosis sepanjan 2025. Dari jumlah itu, ada 38 orang yang dinyatakan meninggal dunia. Kasus kematian tertinggi ada di Kabupaten Bantul.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DIY Ari Kurniawati merinci, ada 227 kasus leptospirosis di Bantul. Kemidan Sleman 118 kasus, Kulon Progo 49 kasus, Kota Jogja 32 kasus, dan Gunungkidul 27 kasus.
“Bantul 12 kematian, Sleman 11 kasus kematian, Kulon Progo 6 kematian, Kota Jogja 8 kematian, serta Gunungkidul dengan 1 kematian," bebernya Selasa (27/1).
Sementara itu, Kepala Dinkes DIY Gregorius Anung Trihadi mengatakan penyakit leptospirosis sering dijumpai ketika musim hujan. Penyakit tersebut masuk dalam kategori penyakit endemis.
"Di beberapa kabupaten/kota virus itu selalu ada, mungkin satu hingga tiga kasus akan selalu ada," ujarnya saat dikonirmasi Selasa (27/1).
Penyakit tersebut umum terjadi di tengah masyarakat. Khususnnya bagi petani dan mempunyai risiko yang cukup tinggi. Tingginya risiko terhadap penyakit itu belum benar-benar diketahui oleh masyarakat.
"Kalau kita tahu faktor risiko leptospirosis itu kan tikus ya, tikus di sawah terutama," bebernya.
Mekanisme penularan bakteri leptospirosis ini, lanjutnya, banyak dibawa oleh tikus. Bakteri tersebut berasal dari kotoran maupun air kencing yang bercampur dengan tanah di sawah. "Tempat masuknya itu biasanya luka yang ada di tubuh manusia," ucapnya.
Informasi itu, lanjutnya, sering disampaikan Dinkes DIY kepada masyarakat. Namun, beberapa masyarakat sulit untuk memahami bahkan abai terhadap itu. Kepada para petani dia mengimbau agar menggunakan sepatu atau pelindung ketika berkegiatan di sawah.
"Beberapa petani bilang pakai sepatu itu menyulitkan, tapi kalau ada luka risikonya benar-benar tinggi," tegasnya.
Bakteri Leptospira tidak hanya ditemukan di persawaha. Di kota, bakteri itu dapat ditemukan di tempat pembuangan sampah maupun kawasan kumuh. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) perlu diperhatikan sebagai upaya antisipasi.
Leptospirosis berpotensi menimbulkan komplikasi di beberapa organ penting penderitanya. Misalnya ginjal dan sebagainya. Bahkan infeksi tersebut bisa menimbulkan kematian. Khususnya jika infeksi awal terlambat ditangani.
"Asalkan didiagnosis sejak dini dan ditangani tenaga kesehatan itu tidak sampai komplikasi," ucapnya.
Gejala infeksi leptospirosis, disebut sama seperti virus influenza. Seperti demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mata merah, hingga mual dan muntah. (oso/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova