Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Temuan TBC di Kulon Progo Masih Rendah, Penelusuran Belum Optimal, Idealnya Skrining Delapan Orang Terdekat Penderita

Anom Bagaskoro • Jumat, 30 Januari 2026 | 20:00 WIB
FOTO ORGAN: Wamenkes Benjamin Paulus saat meninjau proses rontgen TBC yang dilakukan di Kalurahan Sentolo.
FOTO ORGAN: Wamenkes Benjamin Paulus saat meninjau proses rontgen TBC yang dilakukan di Kalurahan Sentolo.

KULON PROGO - Penelusuran penyakit Tuberkulosis (TBC) di Kulon Progo belum berjalan optimal. Alhasil, ratusan penderita TBC belum terdeteksi penyakitnya dan menaikkan tingkat risiko penyebaran.

Padahal, kasus TBC di Kulon Progo terus bertambah setiap tahun. "Strateginya dengan menambah cakupan tracing atau penelusuran, untuk memastikan targetnya," ucap Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo Susilaningsih Jumat (30/1).

Jika ditemukan satu penderita, idealnya penelusuran penularan dilakukan dengan manargetkan populasi delapan hingga orang terdekat dari penderita. Tujuannya, memastikan setiap orang dengan kontak erat dapat mendapat perawatan. "Tahun 2025 penelusuran masih 44 persen dari penderita," ucapnya.

Namun, penelusuran sebaran itu belum berjalan ideal. Dari target ideal delapan orang, baru satu atau dua orang terdekat penderita TBC yang menjadi cakupan penelusuran. Sehingga tindakan deteksi dini, pengobatan, hingga pencegahan tak berjalan optimal.

Hal ini juga diperparah dengan masyarakat yang tidak memeriksakan kondisinya. Padahal, orang terdekat penderita biasanya tidak merasakan gejala TBC.

Oleh karena itu, Dinas Kesehatan Kulon Progo akan segera menambah cakupan penelusuran. Targetnya, satu penderita empat atau lima orang ikut ditelusuri.

Angka ini, lanjutnya, dinilai optimal. Mengingat rata-rata jumlah anggota keluarga dalam satu KK berisi empat sampai lima orang. Selain itu, dinas juga menyiapkan mekanisme jemput bola penelusuran pada keluarga penderita TBC. Tujuannya, untuk mengejar target pemeriksaan. 

Sebelumnya, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus yang ikut meninjau proses rontgen TBC di Kalurahan Sentolo menyebut, Indonesia menempati urutan kedua di dunia kasus TBC terbanyak setelah India. Akan tetapi secara kuantitasnya, Indonesia bisa menempati urutan pertama. Lantaran, kasus TBC ditemukan 386 pasien per 100 ribu penduduk. Sedangkan di India, hanya 190 pasien per 100 ribu penduduk.

"Itu karena jumlah penduduk Indonesia lebih sedikit dibanding India, padahal kalau hitungan per seratus ribu kita lebih banyak," lontarnya.

 

Dokter spesialis paru ini turut menyinggung penanganan TBC belum efektif. Di era pemerintahan Prabowo Subianto, penanganan TBC akan dioptimalisasi. Salah satunya dengan penelusuran penderita TBC. Program yang disediakan pemerintah pusat berupa cek kesehatan gratis untuk memastikan penelusuran TBC. (gas/eno)

 

 

Editor : Sevtia Eka Nova
#penularan #Dinas kesehatan Kulon Progo #skrining #tuberkulosis (TBC) #penderita #KULON PROGO #penelusuran #tbc