RADAR JOGJA - Dosen tari ISI Jogja Daruni Yutta tak menyangka perayaan ulang tahun ke-76 Yu Beruk pada 11 Januari 2026 menjadi pertemuan terakhirnya dengan sang maestro.
Di tengah kemeriahan dan tawa para seniman yang menari Gambyong bersama, Daruni justru merasakan firasat seolah mendiang berpamitan sebelum akhirnya meninggal dunia pada Sabtu (14/2/2026) usai menjalani perawatan intensif di RSUP Sardjito.
"Waktu itu sehat. Bahkan beliau ikut joget Gambyong. Nggak bisa menahan diri waktu saya dan Mbak Yati Pesek joget, beliau langsung ikut turun," ujar Daruni saat dihubungi Radar Jogja, Sabtu (14/2/2026).
Menurutnya, suasana ulang tahun tersebut sangat meriah. Puluhan seniman lintas generasi hadir, mulai pelaku ketoprak senior hingga seniman muda.
Namun di balik kemeriahan itu, Daruni mengaku sempat merasakan firasat yang sulit dijelaskan.
"Terus terang saat itu saya seperti ada bisikan, kok ini kayak perpisahan. Kayak Mbokde Beruk itu pamit pada semua orang. Tapi saya tolak perasaan itu. Saya bilang ini sukacita, ini ulang tahun," ungkapnya.
Firasat tersebut kembali teringat ketika pihak keluarga mengabarkan bahwa Yu Beruk telah delapan hari dirawat di ICU, sekitar sepekan lalu.
"Saya nggak mau itu terjadi, tapi ternyata bisikan itu kejadian," tuturnya lirih.
Daruni menyebut, dari yang diketahuinya almarhumah Yu Beruk meninggal dunia setelah mengalami komplikasi penyakit.
Gejala awalnya berupa sesak napas, yang berkaitan dengan kondisi jantung.
"Jantung. Diawali dengan sesak seperti sakit yang dulu. Terus komplikasi bermacam-macam penyakit," jelasnya.
Ia juga menambahkan, serangan penyakit serius sebelumnya juga sempat terjadi saat Yu Beruk hendak pentas ke Jakarta bertahun-tahun lampau.
Keinginan kuat untuk tetap tampil, menjadi ciri khas almarhumah.
Baca Juga: Menguak Sejarah Benteng Engelenburg; Rahasia Tersembunyi di Kawasan Alun-Alun Klaten
"Inner-nya itu pengennya tetap pentas. Pokoke kudu pentas apapun situasi tubuhnya. Energi pengen pentas itu yang bikin beliau semangat terus," terangnya.
Secara pribadi, kedekatan Daruni dengan Yu Beruk sendiri sudah terjalin sejak 1965, ketika ia masih berusia lima tahun.
Saat itu, pamannya memiliki kelompok ketoprak humor yang pentas di Jakarta dan Yu Beruk, yang masih remaja, menjadi salah satu pemainnya.
"Beliau yang momong saya waktu itu. Dari sana hubungan kami dekat sekali," bebernya.
Baca Juga: Pakai Makanan Bergizi, Sehat, Aman, dan Halal, UGM Usul ke BGN Tidak Gunakan Istilah UPF untuk MBG
Belakangan ia mengetahui ayah Yu Beruk merupakan sahabat dekat ayahnya.
Hubungan kedua keluarga pun semakin erat. Bahkan anak Daruni sempat terlibat dalam aktivitas seni bersama sang maestro.
Dalam perjalanan karirnya, Yu Beruk dikenal sebagai seniman multitalenta.
Ia mendalami tari klasik Jawa, ketoprak, wayang wong, film, hingga teater. Seluruh kemampuan itu, diraih secara otodidak.
Baca Juga: BPJS PBI Dinonaktifkan? Warga Purworejo Diimbau Cek Status di Mobile JKN atau Beralih ke Mandiri
"Mbokde Beruk full belajar otodidak. Tidak ada pendidikan seni formal. Tapi beliau adaptif, melewati berbagai zaman dan tetap panjang karirnya," katanya.
Secara personal, Daruni mengenang almarhumah sebagai sosok yang tangguh, ngemong, dan mengayomi para juniornya.
"Beliau orang baik. Sangat menyenangkan, mengayomi. Buat saya, beliau itu bukan cuma senior, tapi kakak dan mentor," ucapnya.
Baca Juga: Terkuak! 2025, ASN Gunungkidul Bikin Geger dengan Kasus Perselingkuhan dan Pelanggaran Berat
Kepergian Yu Beruk menjadi kehilangan besar bagi dunia seni tradisi Jogja.
Namun bagi Daruni, kenangan terakhir melihat sang seniman ikut menari Gambyong di hari ulang tahunnya akan selalu membekas.
"Bulan lalu itu saya lihat mbokde ra kuat lingguh, kudu tangi melu njoget. Ternyata itu yang terakhir," tambahnya. (iza/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita