Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Miris! Sejak MBG Bergulir, Omzet Pedagang Pasar Argosari Gunungkidul Sayur Anjlok: Pedagang Usulkan Ini

Yusuf Bastiar • Selasa, 17 Februari 2026 | 20:50 WIB
Kondisi Pasar Argosari saat siang hari.
Kondisi Pasar Argosari saat siang hari.

GUNUNGKIDUL – Pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) menimbulkan efek domino di kalangan tingkat bawah.

Terutama kalangan pedagang, mereka mengeluhkan omzet menurun sejak program itu berjalan.

Skema penyediaan makanan yang terpusat justru membuat pasar tradisional kehilangan pembeli.

Salah satu pedagang sayur Pasar Argosari Suherni mengaku, sejak MBG berjalan, kebiasaan orang tua menyiapkan bekal untuk anak berkurang drastis.

Imbasnya, pembelian bahan kebutuhan dapur ikut menyusut.

“Kalau saya bisa ketemu Pak Prabowo, saya ingin menyampaikan langsung. Program makan bergizi gratis ini tidak berdampak pada ekonomi masyarakat kecil seperti kami pedagang pasar. Justru pasar jadi sepi,” ujarnya kepada wartawan saat ditemui Selasa (17/2/2026).

Dia menjelaskan, sebelumnya ibu-ibu rutin berbelanja bahan makanan untuk bekal sekolah anak.

Bahkan pada siang hingga sore hari, sekitar pukul 14.00-16.00, masih ada pembeli yang mampir sepulang kerja untuk membeli cabai, sayur, maupun bumbu dapur. 

“Sekarang sudah jarang sekali. Omzet jelas turun. Biasanya saya stok cabai rawit merah 5 kilogram sehari habis. Ini sudah tiga sampai empat hari masih banyak tersisa,” bebernya.

Suherni menilai, skema MBG yang dikelola melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kurang melibatkan pedagang kecil.

Ia menduga, bahan baku lebih banyak diambil langsung dari pemasok besar, bukan dari pasar tradisional.

Karena itu, ia mengusulkan agar anggaran MBG diberikan langsung kepada orang tua siswa.

Dengan begitu, orang tua bisa berbelanja sendiri bahan makanan di pasar atau warung sekitar rumah. 

“Kalau uangnya diberikan ke orang tua, pasti akan dibelanjakan ke pasar. Ekonomi masyarakat kecil bisa tumbuh bersama. Orang tua juga pasti masak dengan hati-hati untuk anaknya sendiri,” harapnya.

Keluhan serupa disampaikan pedagang jajanan pasar yang enggan disebut namanya. Ia mengaku penjualan makanan ringan atau jajanan tradisional ikut terdampak.

Padahal, mayoritas pembelinya selama ini adalah siswa sekolah dan orang tua yang mengantar anak di pagi hari.

“Biasanya pagi-pagi orang tua mampir beli jajan untuk bekal. Sejak ada program ini, sudah hampir tidak ada. Penurunan omzet jelas terasa,” ujarnya. 

Meski demikian, ia memilih tetap bertahan dan berharap ada evaluasi kebijakan agar tidak mematikan sektor lain.

Menurutnya, jika anggaran diberikan ke orang tua, perputaran uang akan kembali ke pasar dan pedagang kecil.

“Orang tua belanjanya ke kami, bukan ke supplier besar. Harapannya ekonomi masyarakat kecil bisa tumbuh bersama, tidak tumbuh satu sektor tapi mematikan yang lain,” tandasnya.

Ia berharap pemerintah pusat dapat mengevaluasi skema pelaksanaan MBG. Ini agar tujuan peningkatan gizi anak tetap tercapai tanpa mengorbankan denyut ekonomi rakyat kecil di pasar tradisional.

“Saya bilang begini jangan disebut namanya ya, saya takut,” imbuhnya. (bas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Pasar Argosari #Gunungkidul #pedagang #Makan Bergizi Gratis (MBG) #omzet turun #Efek Domino #sepi