Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Harga Cabai Rawit di Gunungkidul Tembus Rp 100 Ribu per Kg, Petani Tersenyum tapi Pasar Justru Sepi

Yusuf Bastiar • Rabu, 25 Februari 2026 | 20:05 WIB

 

Aktivitas warga di pasar Argosari Wonosari pada Minggu (8/2/2026).
Aktivitas warga di pasar Argosari Wonosari pada Minggu (8/2/2026).

GUNUNGKIDUL - Lonjakan harga cabai rawit di Gunungkidul dalam sepekan hingga Rp 100 per kg memunculkan cerita berbeda antara pedagang di pasar tradisional dan petani di lahan.

Sebab, tingkat petani bisa tersenyum dari kenaikan ini, namun sebaliknya jadi keluhan pedagang karena pasar kian sepi pembeli.

Salah satunya dirasakan, Sutingah, 64, yang duduk berjongkok di gelaran lapak daganganmya di lantai dua Pasar Argosari.

Ia tampak terdiam sembari sesekali melirik pengunjung yang melewati dagangannya. Lalu lalang itu jarang sekali terjadi.

Padahal, ia selalu berharap ada pembeli yang mampir di lapaknya. Saat ditemui mengaku harga cabai rawit merah saat ini sudah bertahan di angka Rp 100 ribu per kg lebih dari satu minggu.

Bahkan, empat hari lalu harga eceran sempat menyentuh Rp 120 ribu per kg.

“Kalau ambil dari tengkulak itu sudah Rp 90 ribu sampai Rp 95 ribu per kilo. Jadi ya mau tidak mau jualnya Rp 100 ribu,” ujarnya datar, Rabu (25/2/2026).

Meski harga tinggi, ia justru menghadapi persoalan lain. Daya beli masyarakat menurun drastis.

Jika sebelumnya pembeli biasa membeli satu kilogram, kini hanya seperempatnya saja.

Bahkan ada yang hanya belanja Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu. “Kalau mahal nggak apa-apa asal pembelinya ada. Ini yang bikin pusing pembelinya nggak ada,” keluhnya.

Baca Juga: Kemenhub Sebut Jawa Barat Paling Banyak Kirim Pemudik, Menhub Imbau Gunakan Transportasi Umum

Kondisi tersebut membuatnya tak berani menyetok banyak barang. Cabai yang mudah busuk berisiko merugi jika tak segera terjual.

Ia mengaku stok lima kilogram saja belum habis dalam empat hari terakhir. Padahal, semakin bertambah hari cabai dapat menyusut timbangannya.

Karena itu, Sutingah tak berani menyetok banyak barang dagangannya. Ia menyadari, tingginya harga justru menguntungkan petani.

Namun di sisi lain, pedagang harus memutar otak agar tetap bertahan di tengah lesunya transaksi.

“Sayuran lain juga sama, harganya mahal tapi pembeli turun. Saya tetap jualan untuk bertahan saja. Syukur bisa cukup buat makan keluarga,” ucapnya.

Berbeda dengan suasana pasar, senyum justru merekah di lahan cabai milik petani Padukuhan Dringo, Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin Triyanti, 58.

Dia menanam sekitar 500 batang cabai rawit sejak akhir Desember 2025. Kini, tanaman berusia hampir tiga bulan itu mulai memasuki masa panen.

“Sudah tiga kali petik dalam beberapa hari ini. Sekali petik minimal 10 kilogram. Setelah panen langsung diambil Rp 90 ribu per kilo. Ya senang, karena harga lagi bagus,” katanya.

Harga jual di tingkat petani saat ini berkisar Rp 90 ribu per kg. Bahkan, hasil panennya sudah dipesan sebelum dipetik.

Kendati demikian, hasil panen belum sepenuhnya optimal. Dalam dua kali petik, ia baru mengumpulkan sekitar 10 kg cabai merah matang.

Buah yang masih berwarna kuning belum dipanen demi menjaga kualitas.

Triyanti mengaku sempat pesimistis pada awal masa tanam karena cuaca buruk membuat sebagian benih mati.

Namun kondisi tanaman yang bertahan kini mampu menghasilkan panen dengan harga tinggi.

Sama seperti Sutingah, Triyanti juga menyadari lonjakan harga cabai rawit merah memang menjadi berkah bagi petani di tingkat produksi.

Namun di sisi hilir pasar, pedagang harus menghadapi tantangan turunnya daya beli masyarakat. 

“Mudah-mudahan harga tetap bagus supaya petani dapat untung. Juga daya beli masyarakat membaik sehingga pedagang ada yang nglarisi,” harapnya. (bas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#pasar tradisional #petani tersenyum #Pasar Argosari #Harga cabai rawit #pedagang mengeluh #Pasar Sepi