Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Waspada! Baru Dua Bulan, Leptospirosis di Gunungkidul Renggut Tiga Nyawa

Yusuf Bastiar • Minggu, 8 Maret 2026 | 19:34 WIB

Ilustrasi Leptospirosis.
Ilustrasi Leptospirosis.

GUNUNGKIDUL - Kasus leptospirosis di Kabupaten Gunungkidul meningkat pada awal 2026.

Dalam dua bulan pertama tahun ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat 13 warga terjangkit penyakit yang dipicu bakteri dari urine tikus tersebut, dengan tiga di antaranya meninggal dunia.

Kepala Dinkes Gunungkidul Ismono mengatakan, kasus tersebut tersebar di sejumlah kapanewon di wilayah Gunungkidul.

“Namun saat ini paling banyak di Kapanewon Playen dengan lima kasus, dua di antaranya meninggal dunia,” ujarnya saat dimintai keterangan, Minggu (8/3/2026).

Ismono menjelaskan, secara keseluruhan hingga awal 2026 sudah tercatat tiga kematian akibat penyakit tersebut.

BBaca Juga: Soroti Konflik Iran-AS, Prof. Siti Mutiah: Indonesia Perlu Tinjau Ulang Bergabung dengan Board of Peace

Kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan angka fatalitas dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebab, pada tahun lalu tercatat satu warga meninggal dunia dengan total 30 kasus. “Di awal tahun ini saja sudah ada tiga kematian,” katanya.

Leptospirosis, kata dia, merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri leptospira yang biasanya menyebar melalui air atau tanah yang terkontaminasi urine tikus.

Penularan dapat terjadi ketika bakteri masuk melalui luka terbuka pada kulit atau melalui selaput lendir.

Pun pola penyebaran leptospirosis memiliki kemiripan dengan demam berdarah dengue (DBD), yakni berkaitan erat dengan kebersihan lingkungan.

Bedanya, leptospirosis lebih banyak dipicu oleh keberadaan tikus yang membawa bakteri tersebut.

“Karena itu kebersihan lingkungan harus dijaga agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya tikus,” terangnya.

Ia juga mengingatkan para petani untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di sawah.

Pada musim hujan, banyak genangan air yang berpotensi menjadi media penularan penyakit.

Menurutnya, intensitas hujan yang intens membuat banyak genangan di sawah, sehingga tikus banyak berkembang biak di area tersebut.

Untuk mencegah penularan, petani disarankan menggunakan alat pelindung diri seperti sepatu boot dan sarung tangan saat bekerja di lahan pertanian.

Selain itu, jika terdapat luka di tubuh, disarankan segera membersihkannya dengan sabun setelah selesai beraktivitas.

Imbauan tersebut dinilai penting karena saat ini sebagian petani mulai memasuki masa tanam sehingga aktivitas di lahan meningkat.

“Jadi harus diwaspadai,” pesannya singkat.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gunungkidul Wanda Abrar mengatakan, terus memperkuat upaya pencegahan dan deteksi dini.

Salah satunya melalui kampanye gerakan hidup sehat di masyarakat serta meningkatkan kewaspadaan fasilitas kesehatan terhadap gejala leptospirosis.

“Kami mendorong fasilitas kesehatan di Gunungkidul lebih responsif dalam mendiagnosis gejala leptospirosis,” ujarnya.

Baca Juga: Lebaran Ini Akan Ditemani Petualangan Epik Messi Gusti Menjelajahi Medan Ekstrem Planet Merah

Selain itu, instansi ini juga menyiapkan dukungan alat untuk deteksi dini agar pasien dapat segera ditangani sebelum kondisi menjadi berat.

Ia menegaskan pemerintah daerah berkomitmen melakukan langkah pencegahan sekaligus penanganan untuk menekan penyebaran penyakit tersebut di wilayah Gunungkidul.

“Kami akan mendukung penyediaan alat deteksi dini sehingga angka fatalitas bisa dikendalikan karena pasien dapat segera tertangani dengan baik,” imbuhnya. (bas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Playen #Kabupaten Gunungkidul #meningkat #meninggal dunia #bakteri leptospira #kasus leptospirosis