Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, longsor terakhir terjadi pada Sabtu (29/3/2026).
Meskipun demikian, material yang turun relatif tidak banyak dibandingkan kejadian sebelumnya.
“Dalam sepekan ini sudah tiga kali terjadi longsor susulan. Yang terakhir kemarin relatif kecil materialnya,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (29/3/2026).
Dia menjelaskan, kondisi geologi di kawasan tersebut menjadi faktor utama.
Struktur tanah yang didominasi tanah tua membuat lereng mudah tergerus, terutama saat hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi.
Baca Juga: Mitigasi Pemanasan Global, Pakar UGM Tekankan Pentingnya Menabung Air Hujan dari Atap
“Tanahnya sangat labil, didominasi tanah tua. Ini yang membuat potensi longsor susulan masih tinggi,” jelasnya.
BPBD Gunungkidul terus melakukan penanganan darurat dengan membersihkan material longsoran yang menutup badan jalan.
Material batu dan tanah langsung diamankan agar tidak mengganggu arus lalu lintas.
Baca Juga: Empat Kasus Campak Terdeteksi, Dinkes Klaten Lakukan Sweeping Vaksinasi ke Rumah Warga
Selain itu, pemantauan intensif juga dilakukan, terutama saat turun hujan. BPBD menyiagakan personel di lokasi dan berkoordinasi dengan Polsek Gedangsari untuk mengantisipasi kejadian lanjutan.
“Kalau terjadi hujan, langsung kami pantau. Penanganan dilakukan dengan alat berat maupun manual menggunakan sekop,” jelasnya.
Purwono mengingatkan, jalur Jalan Baru Clongop di wilayah Padukuhan Plasan, Kalurahan Watugajah, masih berpotensi mengalami longsor susulan, khususnya saat hujan lebat.
Baca Juga: Tok! KPPU Vonis 97 Pinjol Bersalah terkait Penetapan Suku Bunga, Total Denda Capai Rp755 Miliar
Sejumlah rambu peringatan kawasan rawan longsor juga telah dipasang oleh kepolisian.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Edy Winarta, menambahkan, longsor sebelumnya sempat terjadi pada Rabu (25/3/2026) siang sekitar pukul 13.00, yang menyebabkan material batu menutup sebagian badan jalan.
Kemudian, longsor kembali terjadi pada Kamis (26/3/2026) dini hari sekitar pukul 03.30.
Material batu dan tanah bahkan sempat menutup hingga 80 persen badan jalan, sehingga arus lalu lintas terganggu.
“Meski sempat menghambat, jalur sudah kembali dibuka. Namun pengguna jalan tetap diminta waspada karena potensi longsor masih ada,” katanya.
Berdasarkan hasil pemantauan pascahujan Sabtu (28/3/2026) sore, hujan dengan intensitas sedang dan durasi cukup lama kembali mengguyur wilayah Watugajah.
Meski tidak terjadi longsor besar, material kerikil sempat berjatuhan ke badan jalan.
Saat hujan deras, petugas sempat melakukan penutupan sementara dan penyekatan jalan demi keselamatan pengguna.
Setelah kondisi dinilai aman, lalu lintas kembali dibuka secara terbatas.
Baca Juga: DIY Targetkan 7.584 Ton Ikan Tangkap, Andalkan Gunungkidul untuk Penuhi Suplai 4.257 Ton
Masyarakat diimbau untuk berhati-hati saat melintas di jalur tersebut, terutama ketika hujan turun.
Pengguna jalan diminta memperhatikan rambu peringatan dan tidak memaksakan diri melintas jika kondisi dinilai berbahaya.
“Keselamatan menjadi prioritas. Jika hujan deras, sebaiknya menunda perjalanan atau mencari jalur alternatif,” imbaunya. (bas/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita