SLEMAN - Karyawan CV Evergreen Buana Prima Sandang menggelar aksi demonstrasi di depan perusahaan yang berlokasi di Purwomartani, Kalasan, Sleman Senin (30/3). Mereka menuntut gaji sejak Januari, Februari, dan Maret yang belum dibayarkan.
Pantauan di lokasi, para karyawan serempak menggunakan seragam perusahaan berwarna merah muda. Mereka membawa berbagai tulisan protes. Seperti "kami butuh bukti bukan sekadar janji", "kerja manut aturan gaji manut utangan", hingga "kerja tiga bulan tanpa gaji, dedikasi tinggi tak berarti". Mereka juga menyampaikan orasi protes dan keluhan selama bekerja di perusahaan produksi baju bayi ini.
Baca Juga: Ulas Sejarah Lingkungan Indonesia di Inggris, Dosen FIB UGM Prof. Agus Suwignyo Soroti 462 Kasus Sejak 1950
Salah satu pegawai CV Evergreen Buana Prima Sandang, Aveliyani Pingky Saputri menjelaskan, karyawan bersama dengan perusahaan sebenarnya sudah membuat perjanjian bersama (PB) bahwa gaji Januari akan dibayarkan pada 18 Maret. Namun, janji tersebut diingkari.
"Kami menuntut gaji kami ke mana gitu loh. Belum dibayar tiga bulan orang-orang pasti kepikiran," lontarnya.
Perempuan yang bekerja sebagai admin QC itu menjelaskan, ada sekitar 500 karyawan dari perusahaan ini. Para karyawan kontrak ini setiap bulan mendapat gaji sesuai dengan upah minimum Rp 2,6 juta per bulan.
Dia mengaku, persoalan gaji ini sebenarnya sudah terjadi sejak September 2025. Namun, setelah dikejar-kejar oleh karyawan akhirnya gaji tahun lalu dibayarkan meski molor dari jadwal seharusnya.
Pingky bercerita, perusahaan juga melakukan pelanggaran dalam pembayaran tunjangan hari raya (THR). Dari PB yang disepakati tanggal 14 Maret, tetapi baru dibayarkan pada 16 Maret. "Sempat telepon sama pemilik dan manajemen, katanya gaji dibayarkan kalau utang dari bank cair," ujarnya.
Baca Juga: Berselisihpaham Berujung Keributan di Ngaglik, Polisi Sebut Belum Ada Yang Diamankan
Perempuan yang telah bekerja selama empat tahun di perusahaan ini menjelaskan, pegawai juga tidak mendapatkan hak terkait BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan sejak Juli 2025. Padahal, ketika dicek di slip gaji ada potongan iuran untuk kedua hal tersebut. Kondisi ini membuat pekerja tidak memiliki perlindungan ketika terjadi kecelakaan kerja atau ketika jatuh sakit.
"Untuk sekarang kami belum bekerja. Masih diliburkan habis Lebaran selama dua minggu, sampai tanggal 6 nanti," tambahnya.
Hal senada disampaikan oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (DPD KSPSI) DIJ Kirnadi. Dia sebut aksi demonstrasi ini adalah akumulasi kekecewaan dari para pegawai karena tindakan perusahaan yang melanggar undang-undang. Dari serikat pekerja dia sebut sudah melakukan negoisasi dan musyawarah, tetapi perusahaan mengingkari kesepakatan. Perusahaan berdalih karena alasan likuiditas dan tengah mencari modal baru.
"Dari PB agar THR dibayarkan tepat waktu, BPJS, dan upah dibayarkan, tapi faktanya tidak dilaksanakan," tambahnya.
Baca Juga: Mitigasi Pemanasan Global, Pakar UGM Tekankan Pentingnya Menabung Air Hujan dari Atap
Atas aksi ini sebenarnya sempat dilakukan komunikasi tertutup antara perwakilan pekerja dan serikat di dalam gedung perusahaan CV Evergreen Buana Prima Sandang. Hanya saja tuntutan dari pegawai masih belum dipenuhi. Awak media mencoba melakukan konfirmasi langsung pada perusahaan, tetapi satpam yang berjaga di pintu masuk menegaskan perwakilan manajemen tidak mau ditemui. Rencananya para buruh akan melakukan demo kembali di Kompleks Kepatihan Selasa (31/3).
Bupati Sleman Harda Kiswaya menjelaskan, atas persoalan ini akan dilakukan komunikasi bersama dinas tenaga kerja. Untuk nantinya bisa berkomunikasi dengan manajemen perusahaan secara langsung. Agar persoalan ini bisa segera tertangani. "Mudah-mudahan ada solusinya. Akan kami tindaklanjuti komunikasi dengan perusahaan kenapa," katanya ditemui di Pendopo Parasamya Senin (30/3).
Lewat rencana pertemuan tersebut, harapannya para pegawai tidak perlu menggelar demo lanjutan. Harda berharap agar mereka bisa mempercayakan persoalan ini pada pemerintah untuk bisa melakukan komunikasi. "Tidak perlu demo. Bisa diskusi dengan saya solusinya gimana, nanti ditemukan," katanya. (del/eno)