Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Curah Hujan Bisa Turun 60 Persen, BMKG Ingatkan Risiko Kekeringan di Jogja: Ini Penyebabnya!

Iwan Nurwanto • Selasa, 14 April 2026 | 18:18 WIB
Anak-anak bermain bola saat cuaca cerah di RTH Flamboyan, Kricak, Tegalrejo, Kota Jogja, Selasa (14/4/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi awal musim kemarau 2026 di wilayah DIY akan dimulai pada akhir April hingga awal Mei. Aga Tirtana/Radar Jogja.
Anak-anak bermain bola saat cuaca cerah di RTH Flamboyan, Kricak, Tegalrejo, Kota Jogja, Selasa (14/4/2026). BMKG) Yogyakarta memprediksi awal musim kemarau 2026 di wilayah DIY akan dimulai pada akhir April hingga awal Mei. Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja.
JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mewanti-wanti potensi bencana kekeringan selama periode kemarau tahun ini.

Pasalnya, kemarau diprediksi lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, pada pertengahan tahun Yogyakarta dimungkinkan menghadapi El Nino lemah hingga moderat. Hal tersebut berpotensi menurunkan curah hujan cukup signifikan.

Baca Juga: Mobilisasi ASN demi Konten Klaim Serupai Buzzer: Diminta Aktif Like, Komen, dan Berlangganan untuk Dukung Program Pemerintah

“Setelah pertengahan tahun 2026 dengan ada peluang penurunan curah hujan dari 50 sampai 60 persen,” ujar Reni dalam keterangannya, Selasa (14/4/2026).

Reni menyebut, curah hujan selama musim kemarau kemungkinan bisa berada dalam kategori bawah normal.

Artinya, kondisi kemarau diprediksikan lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya. 

Baca Juga: Lelang Masjid Muhammadiyah Semarang: Modal Nol Rupiah, Berhasil Kumpulkan Rp 200 Juta dan Ratusan Sak Semen

Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat penting untuk melakukan tindakan antisipasi terhadap kondisi iklim ekstrem saat musim kemarau.

Yakni dengan mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak mengalami gagal panen.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk mewaspadai bencana yang disebabkan oleh kekeringan. Misalnya kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya ketersediaan air bersih.

Baca Juga: Kontes Layanan Honda Regional (KLHR) 2026, Astra Motor Yogyakarta Siapkan Kandidat Layanan Terbaik

Reni menjelaskan, bahwa awal musim kemarau di DIY diprediksi terjadi pada dasarian ketiga April dan dasarian pertama bulan Mei.

Kemudian untuk puncaknya kemungkinan terjadi pada bulan Agustus.

Terkait dengan durasi musim kemarau, menurutnya bisa terjadi antara 16 sampai dengan 21 dasarian.

Baca Juga: Menjelajahi Keajaiban South West Australia: Surga Alami, Satwa Liar, dan Gastronomi Kelas Dunia

Sementara untuk akhir musim kemarau di Yogyakarta kemungkinan terjadi di dasarian kedua bulan Oktober dan dasrian pertama bulan November.

“Wilayah-wilayah yang rentan terhadap kekeringan meteorologis penting untuk mengambil langkah antisipatif melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien,” pesan Reni. (inu)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#lebih kering #Musim Kemarau #bmkg yogyakarta #kekeringan #Ketersediaan Air