Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Masuk Musim Kemarau, Kualitas Udara di Kota Jogja Diprediksi Memburuk

Iwan Nurwanto • Rabu, 22 April 2026 | 18:49 WIB
TERLALU SESAK: Ilustrasi kepadatan kendaraan di kota Jogja. Kualitas udara di Kota Jogja diprediksi menurun. Kondisi tersebut tidak lepas dari situasi di musim kemarau yang memicu peningkatan partikel debu halus atau PM2.5. GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
TERLALU SESAK: Ilustrasi kepadatan kendaraan di kota Jogja. Kualitas udara di Kota Jogja diprediksi menurun. Kondisi tersebut tidak lepas dari situasi di musim kemarau yang memicu peningkatan partikel debu halus atau PM2.5. GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

JOGJA – Masuknya musim kemarau yang lebih panjang, berpotensi berpengaruh terhadap menurunnya kualitas udara di Kota Joga.

Hal ini karena, situasi musim kemarau memicu peningkatan partikel debu halus atau PM2.5.

Ketua Tim Kerja Pengawas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Jogja Intan Dewani mengatakan, kondisi musim memang cukup berpengaruh terhadap kualitas udara di sebuah wilayah.

Lantaran pada musim kemarau cenderung kering dan meningkatkan paramater debu halus.

Baca Juga: Jangan Asal Seruput, Ini Cara Bijak Konsumsi Kopi agar Bermanfaat bagi Kesehatan

Intan menjelaskan, sementara pada musim penghujan kandungan PM2.5 pada udara memang lebih rendah.

Berdasarkan hasil pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), selama musim penghujan angka PM2.5 berada di bawah 50. 

“Memang pada musim penghujan kualitas udara cenderung membaik,” ujar Intan saat dikonfirmasi, Rabu (22/4/2026).

Baca Juga: Inilah Golongan Mati Syahid Serta Keistimewaannya

Intan mengungkap, terkait dengan kondisi kualitas udara pada masa peralihan musim seperti sekarang, berdasarkan hasil pengukuran Air Quality Monitoring System (AQMS) paramater PM2.5 masuk kategori baik hingga sedang.

Namun ke depannya perlu diwaspadai karena berdasar pengalaman yang terjadi setiap musim kemarau, PM2.5 bisa naik hingga di kisaran angka 60-an.

Partikel tersebut bisa memicu masalah kesehatan karena berasal dari hasil pembakaran bahan bakar fosil seperti asap kendaraan, industri, dan pembakaran sampah.

“Kalau musim kemarau yang cenderung meningkat parameter PM2,5,” beber Intan.

Baca Juga: Antisipasi Kecurangan, UTBK 2026 di UGM Gunakan Sistem Operasi Linux Berbasis USB

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Reni Kraningtyas mengungkapkan, musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang.

Lantaran pada pertengahan tahun DIY menghadapi El Nino lemah hingga moderat.

Menurutnya, awal musim kemarau di Yogyakarta diprediksi terjadi pada dasarian ketiga April dan dasarian pertama Mei.

Baca Juga: Nekat Produksi Miras, Kapolres dan Bupati Sukoharjo Segel Pabrik Ciu Bekonang di Mojolaban

Kemudian untuk puncak musim kemarau terjadi pada Agustus.

“Setelah pertengahan tahun 2026 dengan ada peluang penurunan curah hujan dari 50 sampai 60 persen,” sebutnya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#partikel debu halus #memburuk #Musim Kemarau #Kota Jogja #kualitas udara