KULON PROGO - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo mencatat temuan kasus campak mencapai 288 suspek sepanjang paruh awal 2026.
Kendati ada temuan, status kejadian luar biasa (KLB) belum ditetapkan. Sebab, kondisi temuan kasus masih dinilai wajar.
Kepala Dinkes Kulon Progo Susilaningsih mengatakan, ratusan orang tercatat sebagai suspek campak pada periode Januari hingga April 2026.
Dari 228 suspek campak, hanya delapan orang yang positif, setelah mendapat pemeriksaan dan uji laboratorium.
"Sudah diperiksa semua, yang positif delapan orang," ucap Susi, kemarin (26/4).
Susi menjelaskan, dari delapan orang, lima orang di antaranya terdeteksi sebagai campak biasa.
Sedangkan, sisanya terdeteksi campak Jerman dengan gejala bintik merah. Berbeda dengan campak biasa yang identik ruam merah pada kulit terutama wajah.
Kasus campak di Kulon Progo memang sedikit berbeda, karena penderita merupakan kelompok usia produktif atau dewasa.
Kasus campak diketahui tersebar di empat kapanewon, di antaranya, Samigaluh, Lendah, Sentolo, dan Galur.
Temuan kasus di Sentolo, menunjukkan penyebab campak akibat pola mobilisasi masyarakat.
Saat Lebaran lalu, masyarakat melaksanakan mudik, membuat persebarannya meluas.
Baca Juga: Tawuran Pelajar Pecah di Boyolali; Polisi Ciduk Belasan Siswa SMK Negeri di Mojosongo yang Bawa Sajam dalam Kondisi Mabuk
"Kondisinya belum memenuhi untuk penetapan kasus KLB," ungkapnya.
Kendati ratusan masyarakat menjadi suspek campak, pihaknya belum menetapkan status KLB.
Ini karena secara standar penentuan KLB harus diukur dari dampak persebaran. KLB ditetapkan, apabila dalam satu wilayah kabupaten atau kapanewon terdeteksi penularan campak dua kali lipat.
Kondisi ini, merupakan efek berantai yang harus segera ditetapkan status KLB, karena penularan cukup rawan.
Baca Juga: Empat Jemaah Haji Embarkasi Solo Dipulangkan karena Tidak Istitaah, Delapan Lainnya Harus Opname di Rumah Sakit
Walau status KLB belum ditetapkan, penanganan campak dilakukan secara optimal.
Pemantauan perkembangan kasus dilakukan oleh dinkes dan puskesmas di setiap kapanewon.
Tenaga kesehatan dan sarpras pendukung telah disiapkan untuk perawatan. Namun, fokus utamanya juga berkaitan pada sosialisasi ke masyarakat, terkait pola penularan campak.
Baca Juga: Rayakan Semangat Kartini, Astra Motor Yogyakarta Roadshow bareng BeAT ke SMA Negeri 1 Prambanan
Gencarnya sosialisasi juga berkaitan dengan penolakan masyarakat. Masih banyak masyarakat yang menolak vaksin campak, khususnya kelompok usia produktif.
Pihaknya menggandeng tokoh masyarakat dan puskesmas untuk menggencarkan pemahaman ke masyarakat. (gas/wia)