Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Efek PMK, Harga Sapi Kurban di Kulon Progo Naik Rp 2 Juta Per Ekor: Akibat Minimnya Stok Ternak Pascawabah Tahun Lalu 

Anom Bagaskoro • Minggu, 10 Mei 2026 | 19:45 WIB
SEPI: Penjual dan Pembeli hewan kurban di Pasar Hewan Kulon Progo tak memenuhi los yang ada. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
SEPI: Penjual dan Pembeli hewan kurban di Pasar Hewan Kulon Progo tak memenuhi los yang ada. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

KULON PROGO – Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) tahun lalu masih berdampak pada kenaikan harga hewan kurban sapi menjelang Idul Adha di Kulon Progo. Minimnya stok ternak membuat harga sapi naik hingga Rp 2 juta per ekor dan berdampak pada turunnya minat pembeli di pasar hewan.

Salah satu peternak dan penjual hewan kurban Sadino mengatakan, dampak PMK tahun lalu masih terasa hingga sekarang. Walau temuan kasus di Bumi Binangun cenderung sedikit, efek PMK tahun lalu berdampak ke harga hewan kurban sekarang.

"Ternak sapi di masyarakat cenderung turun, karena merebak wabah PMK," ucap Sadino, Minggu (10/5/2026).
Baca Juga: Generasi Muda Turun ke Situs Purba Bumiayu, Empat Pelajar Ikuti Studi Lapangan Bersama Peneliti Arkeologi

Sadino menjelaskan, banyak peternak kecil dan besar memilih mengurangi stok hewan saat PMK tahun lalu. Akibatnya, hewan ternak khususnya sapi dengan ukuran untuk kurban sulit didapatkan. Hal serupa juga terjadi di beberapa daerah sentra produksi hewan potong.

Jumlah stok yang sedikit, menyebabkan kenaikan harga tak terhindarkan. Sapi dari daerah Gunungkidul, dan Madura turut mengalami kenaikan. Rata-rata kenaikan berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

"Naiknya lumayan, dari tahun sebelumnya Rp 21 juta sekarang jadi Rp 23 juta," ucapnya.
Baca Juga: Penantian 16 Tahun Berakhir di Tanah Suci, CJH asal Kulon Progo Meninggal Sebelum Puncak Haji

K
ebanyakan masyarakat mencari sapi ukuran sedang dengan anggaran di bawah Rp 25 juta. Namun, sapi dengan ukuran tersebut kini sulit didapat pada kisaran harga itu akibat kenaikan harga ternak.
Kondisi tersebut membuat pemasaran sapi di Kulon Progo cenderung lesu, sehingga sebagian besar ternak justru didistribusikan ke Kebumen yang dinilai memiliki pasar lebih kompetitif.

Menurutnya, kenaikan harga hewan kurban sapi berdampak ke menurunnya minat pembeli. Di tahun lalu, Sadino mampu menjual 30 ekor sapi hanya dari membuka lapak di Pasar Hewan Kulon Progo. Namun, tahun ini penjualannya menurun dan diprediksi hanya mampu menjual belasan ekor saja.

"Bisa dilihat sendiri sepi, padahal tahun lalu jelang Idul Adha los pasar penuh," ungkapnya.

Baca Juga: Viral Begal Pantat di Magelang, Pelaku Ternyata Sudah Berkali-kali Beraksi

Selain sepi peminat, penjualan ternak juga tak banyak dilirik pedagang atau peternak. Hal ini dibuktikan dengan perdagangan hewan kurban di Pasar Hewan Kulon Progo. Hanya satu los sapi dari lima los yang terlihat aktivitas perdagangan.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapa) Kulon Progo Yuriati menjelaskan, tak ada temuan PMK pada Mei 2026. Kasus PMK terakhir kali muncul pada Januari 2026, itupun dapat dikendalikan.

"Terakhir Januari 91 kasus, dan itu semua bisa disembuhkan," ungkapnya. (gas/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Minimnya Stok #PMK #harga naik #sapi kurban #KULON PROGO