JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY memastikan satu pasien suspek Hantavirus di Kulon Progo dinyatakan negatif berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium. Sehingga saat ini, tidak ada kasus aktif Hantavirus di DIY. Masyarakat diminta tetap waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan tikus yang menjadi sumber penularan virus.
"Suspek Hantavirus di DIY dipastikan hasil pemeriksaan laboratoriumnya negatif Hantavirus," tegas Kepala Dinkes DIY Gregorius Anung Trihadi saat dikonfirmasi, Minggu (10/5/2026).
Satu pasien suspek yang hasilnya negatif itu dikabarkan berasal dari Kabupaten Kulon Progo. Setelah itu, tahun ini belum ada laporan adanya temuan kasus positif Hantavirus.
“Enam pasien positif di tahun 2025 sudah sembuh total, tidak ada kasus kematian," bebernya.
Menurutnya, seluruh kasus Hantavirus yang ditemukan di DIY dan seluruh Indonesia memiliki karakteristik gejala yang lebih ringan dibandingkan Andes Virus yang menginfeksi penumpang kapal pesiar MV Hondius.
Disebutkan Hantavirus di Indonesia termasuk ke dalam strain tipe HFRS (Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome).
Baca Juga: Harus 600 Meter Persegi, Pembangunan Gerai KDMP di Kulon Progo Terganjal Status Tanah
"Hantavirus Stain HFRS memiliki gejala klinis yang biasanya mulai tampak setelah satu hingga dua minggu terpapar virus tersebut antara lain demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise atau lemas, dan jaundice yakni tubuh menguning," jelasnya.
Hantavirus disebut penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat, khususnya tikus. Meskipun hampir sama jalur penularannya dengan Leptospirosis, namun berbeda penyebab kumannya.
"Leptospirosis oleh bakteri Leptospira sedangkan penyakit Hanta oleh virus Hanta," jelasnya.
Baca Juga: Kami Tetap Bangga! Drama Adu Penalti di MagIS, PSS Sleman Harus Puas Runner-up Pegadaian Championship 2025/2026
Penularan Hantavirus dapat terjadi melalui kontak langsung dengan feses, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi. Kemudian, menghirup udara yang terkontaminasi kotoran tikus (droplet) dan kontak dengan air atau tanah yang telah tercemar virus tersebut.
"Masyarakat diharapkan tetap tenang dan tidak panik, namun meningkatkan kewaspadaan dengan langkah pola hidup bersih dan sehat (PHBS)," imbaunya.
Langkah yang dilakukan Dinkes DIY bersama dengan kabupaten/kota yakni melakukan pelacakan kasus (contact tracing) dan pemantauan wilayah di sekitar domisili penderita.
Kemudian melakukan surveilans sentinel rutin untuk kewaspadaan. "Pelaksanaan pemasangan perangkap tikus (trapping) untuk uji laboratorium guna mengidentifikasi jenis virus pada populasi tikus lokal," katanya.
Selain itu, mereka akan memperkuat edukasi dan sosialisasi intensif melalui puskesmas dan kader kesehatan mengenai pentingnya sanitasi lingkungan (rodent control) dan pelaporan kasus berbasis masyarakat. (oso/wia)