SLEMAN - Sebelas bayi dievakuasi dari sebuah rumah di Padukuhan Randu, Hargobinangun, Pakem, Sleman pada Jumat (8/5) lalu. Peristiwa ini memicu kecurigaan karena waktu kerjadian yang tidak terjeda lama dari kasus penganiayaan di tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha, Umbulharjo, Kota Jogja.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman Mustadi menjelaskan, saat itu dirinya turut dihubungi karena pemahaman masyarakat lokasi tersebut merupakan daycare. Dia sebut dinas pendidikan memang memiliki tanggung jawab pada daycare yang berstatus satuan pendidikan.
"Kalau bukan satuan pendidikan, seperti kelompok bermain bukan ranah kami. Pengasuhan ini belum ada izin dan perjanjian tidak jelas juga," katanya lewat sambungan telepon Minggu (10/5).
Mustadi menjelaskan, bayi-bayi ini berasal dari Klinik Bidan Octa di Kapanewon Gamping yang menerima jasa persalinan. Namun, ibu bayi yang bersalin ini menitipkan anaknya ke bidan untuk diasuh karena mereka masih berstatus mahasiswa.
Dengan landasan hati nurani, akhirnya dilakukan pengasuhan oleh bidan. Namun, sebenarnya yang selama ini mengasuh bayi-bayi itu adalah orang tua dari si bidan. Total ada tiga orang pengasuh. “(Orang tua bayi atau mahasiswa, Red) mau ngomong ke orang tua di tempat asalnya tidak berani. Itu cerita dari orang tua bidan yang saya temui di lokasi," rincinya.
Selama berjalannya waktu ada yang menitipkan dan membayar juga. Lalu memberikan pamper dan memberikan susu. Pengasuhan ini dia sebut sudah berlangsung lama di Banyuraden, Gamping. Hanya saja selama sepuluh hari terakhir, orang tua si bidan punya kegiatan di Kapanewon Pakem. Dengan alasan itu semua bayi dibawa naik ke rumah di Pakem itu. Saat masyarakat tahu ada banyak bayi di rumah tersebut, akhirnya melapor sampai lurah dan panewu.
"Lama-kelamaan bayi yang dititipkan untuk diasuh menjadi menumpuk hingga sebelas. Rata-rata mahasiswa yang menitipkan bayi, ada yang dari luar Pulau Jawa," ujarnya.
Pria yang juga pernah menjabat sebagai kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sleman ini menjelaskan, saat akan dimasukkan ke Balai Rehabilitasi Sosial Pengasuhan Anak (BRSPA) memang harus dilakukan pengecekan kesehatan. Dia turut membenarkan bahwa dari hasilnya ada tiga bayi yang harus dirujuk ke rumah sakit. Salah satunya karena punya penyakit yang mengarah pada masalah jantung.
"Menurut saya ini masuk kategori anak-anak telantar. Ketika saya di sana ada orang tua yang mengambil anaknya juga, masih muda. Orang tua ini kelihatan emosi. Saya katakan saja bahwa saya datang untuk memberi bantuan perlindungan bayi," bebernya.
Saat melakukan tinjauan di Pakem, dia sebut melihat pembangunan kamar mandi baru dan sumur juga. Campuran semen pasir juga masih ada di lokasi. Mustadi menduga ada kemungkinan lokasi pengasuhan bayi sebenarnya akan dipindah di rumah Pakem ini. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova