Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Harga Bahan Baku Tahu Naik, Perajin di Kulon Progo Kecilkan Ukuran dari 100 Potong Kini 110 Potong

Anom Bagaskoro • Rabu, 13 Mei 2026 | 05:50 WIB

 

Perajin tahu di Kalurahan Tuksono mencetak tahu dengan alat pres lalu dipotong menjadi beberapa bagian.
Perajin tahu di Kalurahan Tuksono mencetak tahu dengan alat pres lalu dipotong menjadi beberapa bagian.

 

 

 

KULON PROGO - Sudah sebulan lebih perajin tahu di Bumi Binangun mengencangkan ikat pinggang. Pasalnya, bahan baku dan pendukung pembuatan tahu naik drastis. Walhasil, perajin lebih memilih memperkecil ukuran tanpa menaikkan harga produk mereka.

Salah satu perajin tahu asal Kalurahan Tuksono, Kapanewon Sentolo Ponirin menyampaikan, kenaikan harga bahan baku tahu atau tempe telah terjadi selama empat bulan terakhir. Kenaikan ini tergolong drastis, dan tak kunjungan mengalami penurunan.

Hal ini juga dikeluhkan beragam perajin tahu tempe disekitarnya. "Bahan baku dan pendukung naik dan tidak turun-turun, kami merasa keberatan," ucap Ponirin, saat ditemui Radar Jogja di rumah produksinya di Padukuhan Wonobroto, Selasa (12/5).

Baca Juga: Peringatan Ahli Waris Sriwedari ke Pemkot Solo: Jangan Gegabah Revitalisasi Lahan Sengketa!

Ponirin mengaku, harga bahan baku kedelai mengalami kenaikan dari yang sebelumnya Rp 9 ribu menjadi Rp 11 ribu. Kenaikan ini berlaku pada kedelai impor yang menjadi tulang punggung utama pembuatan tahu dan tempe.

 Mengingat kedelai impor memiliki biji besar dan mudah untuk diolah. Agar tak membuat pelanggannya kecewa, pengusaha tahu itu lebih memilih tetap menggunakan kedelai impor walau harga di atas normal.

Di samping kedelai, harga minyak goreng turut melonjak. Minyak goreng kemasan mengalami kenaikan dari Rp 20 ribu menjadi Rp 23 ribu per liter. Padahal minyak goreng merupakan bahan pendukung untuk membuat tahu setengah matang.

Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Ajak Komunitas Honda Konser Bareng Gen Kalcer

Kenaikan harga plastik turut membebani perajin tahu. Mengingat plastik menjadi komponen kemasan yang ideal digunakan. Kemasan plastik tak bisa diganti kemasan lain, karena tahu lebih gampang rusak dengan kemasan nonplastik. "Tidak bisa menaikkan harga karena mengingat pelanggan, cukup mengatur ukuran saja dari sebelumnya 10 kali 10 jadi 10 kali 11," ucapnya.

Kendati bahan baku naik, Ponirin enggan menaikkan harga tahu. Pasalnya, kondisi masyarakat sedang mengalami penurunan daya beli. Apabila harga dinaikkan, usaha tahunya akan dihindari pembeli. Padahal usahanya menghidupi belasan karyawan.

Ponirin lebih memilih mengurangi penggunaan bahan kedelai impor dari awalnya enam kilogram menjadi 5,5 kilogram. Selain mengurangi konsumsi kedelai impor, dirinya turut mengatur ukuran tahu. Biasanya dalam satu nampan tahu dapat menjadi 100 potong (dari 10 kali 10), kini satu nampan menjadi 110 potong (dari 11 kali 10).

 Baca Juga: Indonesia Unjuk Gigi di Biennale Venesia 2026: Bumi Purnati Hadirkan Dua Karya Teater Unggulan

Kondisi serupa juga dialami Devi Nur Utami perajin tahu di Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah. Kenaikan bahan baku kedelai, minyak goreng, dan plastik membuat keuntungan usaha semakin tipis. Lantaran, pihaknya enggan menaikkan harga tahu. "Lebih baik harganya tetap sama, karena daya beli masyarakat juga sedang lesu," ungkapnya.

Devi mengaku, perajin tahun memilih mengurangi ukuran ketimbang menaikkan harga. Ia berharap agar pemerintah dapat menstabilkan harga bahan baku tempe atau tahu. Lantaran, sudah empat bulan kenaikan tanpa diikuti penurunan harga. (gas/pra)

Editor : Heru Pratomo
#tuksono #harga bahan baku #Perajin #tahu #KULON PROGO