Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Menelusuri Sejarah Asal-usul Sleman, dari Teori ‘Hutan Gajah’ Prasasti Canggal hingga Suleman

Heru Pratomo • Jumat, 15 Mei 2026 | 05:50 WIB
MENANTANG: Sejumlah wisatawan tengah menikmati wisata lava tour berkeliling di zona aman lereng Merapi belum lama ini.(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA )
MENANTANG: Sejumlah wisatawan tengah menikmati wisata lava tour berkeliling di zona aman lereng Merapi belum lama ini.(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA )

 

 

SLEMAN - Mengungkap tabir sejarah sebuah daerah merupakan perjalanan yang rumit dan melelahkan. Di balik kemeriahan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman, tersimpan untaian toponimi (asal-usul nama) yang sangat bernilai tinggi. Salah satu teori populer datang dari hipotesis sejarawan terkemuka, Prof. Purbatjaraka.

Purbatjaraka menyebut nama Sleman berasal dari keberadaan sebuah hutan kuno bernama Kunjarakunja, yang berarti "daerah hutan gajah".

Keberadaan kawasan ini termaktub dalam Prasasti Canggal yang ditemukan di Candi Gunung Wukir, Magelang. Dalam bahasa Jawa, hutan gajah tersebut diistilahkan sebagai “alas ing liman”. Seiring berjalannya waktu, pelafalan masyarakat bergeser menjadi Saliman, hingga akhirnya mengerucut menjadi kata Sleman.

Baca Juga: Atap Kelas MTs Muhammadiyah 4 Bulu Ambruk saat KBM, 7 Siswa dan 1 Guru Dilarikan ke RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen

Selain itu, terdapat teori kedua yang merujuk pada kata Salimar dalam Prasasti Salimar IV (bertahun 802 Saka atau 880 M) yang ditemukan di daerah Demangan, Sleman. Prasasti tersebut berisi tentang piagam penetapan wilayah perdikan (bebas pajak) untuk Hutan Salimar.


Era Rijksblad dan Pembagian Distrik

Secara administratif modern, eksistensi legal Kabupaten Sleman terlacak pada dokumen Rijksblad Nomor 11 Tahun 1916. Regulasi ini membagi wilayah Kasultanan Yogyakarta (Mataram) ke dalam tiga kabupaten awal, yakni Kalasan, Bantul, dan Suleman (Sleman), dengan seorang bupati sebagai kepala wilayahnya.

Kala itu, Kabupaten Sulaiman membawahi empat distrik utama yang masing-masing dipimpin oleh seorang Panji, meliputi:

  1. Distrik Mlati (5 onderdistrik, 46 kalurahan)

  2. Distrik Klegoeng (6 onderdistrik, 52 kalurahan)

  3. Distrik Joemeneng (6 onderdistrik, 58 kalurahan)

  4. Distrik Godean (8 onderdistrik, 55 kalurahan)

Baca Juga: Harga Bahan Baku Tahu Naik, Perajin di Kulon Progo Kecilkan Ukuran dari 100 Potong Kini 110 Potong

Pada tahun yang sama, geopolitik Kasultanan Yogyakarta berkembang dinamis menjadi enam kabupaten menyusul terbitnya Rijksblad No. 12 (Gunungkidul), Rijksblad No. 16 (Kota/Kabupaten), dan Rijksblad No. 21 (Kulon Progo).


Dinamika Agresi Militer dan Perpindahan Ibu Kota

Pasca-era Rijksblad, Sleman sempat mengalami beberapa kali reorganisasi bahkan penurunan status menjadi setingkat distrik. Statusnya dikembalikan menjadi kabupaten (Sleman Ken) yang membawahi 17 Kapanewon dan 258 Kalurahan pada 8 April 1945 melalui dekret Sri Sultan Hamengkubuwono IX (Jogjakarta Koorei Angka 2).

Bupati pertama era kemerdekaan dipimpin oleh KRT Pringgodiningrat (1945–1947) dengan ibu kota pertama berada di Desa Triharjo. Saat tampuk kepemimpinan beralih ke KRT Prodjodiningrat, Belanda melancarkan agresi militer di Yogyakarta.

Baca Juga: Hadapi Tingginya Konsumsi Gula, Enzim Dextranase Jadi Solusi Proteksi Gigi Konsumen Indonesia

Kondisi tersebut memaksa bupati, aparat pemerintah, TNI, dan rakyat keluar wilayah untuk bergerilya. Akibatnya, kompleks perkantoran di Triharjo sepi dan mengalami penjarahan ("bumi angkut") oleh oknum tak bertanggung jawab hingga kondisinya rusak parah.


Dari Ambarukmo Menuju Beran

Lantaran Triharjo tak lagi layak untuk pelayanan publik, pada tahun 1947 KRT Prodjodiningrat memindahkan pusat aktivitas pelayanan pemerintahan ke Ambarukmo (saat ini kompleks Pendopo Hotel Ambarukmo) yang merupakan bekas petilasan dalem sekaligus tempat pendidikan perwira polisi pertama di Indonesia. Perlu dicatat, Ambarukmo kala itu berfungsi sebagai pusat aktivitas pelayanan, bukan sebagai ibu kota resmi.

Baca Juga: Nilai Gizi dan Khasiat Labu yang Jarang Diketahui

Pusat pelayanan bertahan di Ambarukmo selama 17 tahun. Hingga akhirnya pada tahun 1964, Bupati KRT Murdodiningrat resmi memindahkan pusat pemerintahan Kabupaten Sleman ke Dusun Beran, Kalurahan Tridadi (eks Kompleks Pabrik Gula Beran) yang bertahan menjadi pusat birokrasi hingga saat ini.

Rentetan sejarah panjang ini akhirnya berhasil dilegitimasi melalui Perda Nomor 12 Tahun 1998 tertanggal 9 Oktober 1998. Regulasi tersebut menetapkan 15 Mei 1916 sebagai Hari Jadi Kabupaten Sleman—sebuah penanda berdirinya entitas geografis dan sosiologis Sleman, bukan sekadar hari jadi jajaran birokrasi pemerintahannya.

Editor : Heru Pratomo
#hutan gajah #suleman #ambarukmo #hari jadi #SLEMAN