Salah satu peternak bebek asal Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan Agus Nurmansyah menjelaskan, penurunan harga tersebut telah berlangsung selama empat pekan terakhir. Padahal harga telur bebek sempat mengalami kenaikan saat Idul Fitri.
"Sekarang harganya terjun bebas, per butirnya Rp 1.500," ucap Agus, Minggu (17/5/2026).
Agus menyampaikan, selama Idul Fitri harga telur mencapai Rp 2.500 per butir. Namun kembali anjlok, setelah beberapa pekan hingga di harga normal sekitar Rp 2 ribu per butir. Penurunan harga telur terus berlanjut hingga pertengahan Mei.
Ia menggambarkan, saat Idul Fitri, masyarakat banyak membeli telur asin untuk makanan di rumah. Kebutuhan telur bebek yang tinggi itu, memicu penyerapan hasil panen di tingkat peternak. Terlebih, perajin telur asin yang selalu bekerja sama dengan peternak kebanjiran order dari program MBG.
Kendati harga telur menurun, Agus justru merasa kesulitan memasarkan hasil panennya. Lantaran, tengkulak hingga perajin telur asin justru menurunkan jumlah pembelian. Hal ini, dipicu penurunan minat masyarakat akibat daya beli melemah.
"Seminggu sekali pasti sembilan ribu butir telur selalu habis, sekarang butuh 10 harian baru terjual," bebernya.
Peternakan milik Agus memiliki produksi telur 1.200 butir per hari. Dalam seminggu, ia dapat mengumpulkan sembilan ribu telur dan selalu ludes terjual. Konsumennya merupakan, pedagang, tengkulak, hingga perajin dari luar daerah. Namun kini, konsumennya lebih memilih mengurangi jumlah pembelian.
Kondisi harga telur yang terjun bebas turut diperparah dengan kenaikan harga pakan. Pakan bebek yang biasanya terbuat dari pelet mengalami kenaikan dari Rp 10 ribu menjadi Rp 15 ribu per karung. Kenaikan ini dipicu melemahnya rupiah terhadap dolar. Mengingat bahan baku pakan biasanya diimpor dari luar negeri.
Agus berharap, harga telur kembali di harga normal. Mengingat harga pakan mengalami fluktuasi dan berakibat ke peternak lokal. Padahal peternak sepertinya hendak mengembangkan usaha. Namun, tak bisa, mengingat harga telur dan pakan masih belum stabil.
Hal serupa juga diungkapkan pedagang telur di Pasar Bendungan Yuniati. Sebagian besar komoditas telur mengalami penurunan, baik telur ayam hingga bebek. Paling mencolok pada komoditas telur ayam yang mengalami penurunan hingga Rp 5 ribu.
"Ini masih turun terus, telur ayam Rp 25 ribu per kilogram sebelumnya Rp 30 ribu," ungkapnya. (gas/wia)