BMKG Yogyakarta Ingatkan Potensi Kekeringan Ekstrem di DIY Periode Juli hingga Oktober akibat El Nino

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Kamis, 28 Mei 2026 | 21:15 WIB
KERING: Meski mengalami kekeringan, Mundakir tetap berikhtiar untuk melakukan penyemprotan di lahan pertanian miliknya, Rabu(23/8/23).Naila Nihayah/Radar Jogja
KERING: Meski mengalami kekeringan, Mundakir tetap berikhtiar untuk melakukan penyemprotan di lahan pertanian miliknya, Rabu(23/8/23).Naila Nihayah/Radar Jogja

JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta mengeluarkan peringatan dini terkait dengan potensi kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino. Kondisi ini memungkinkan terjadi penurunan hujan signifikan dan diprediksi terjadi selama Juli hingga Oktober tahun ini.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, fenomena tersebut berpotensi terjadi kemarau yang lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya.

Potensi kekeringan sejatinya dapat terjadi mulai Juni. Namun di bulan keenam itu curah hujan masih berada di kategori atas normal-bawah normal. Sementara untuk Juli hingga Oktober curah hujan seluruhnya berada di kategori bawah normal.

Baca Juga: Duh Hampir Seminggu, Lebih 40 Titik Api Muncul di Rumah Seyegan akibat Kebocoran Gas Metana: Ini Penjelasan Polisi!

“Sehingga ada kemungkinan kekeringan ekstrem,” ujar Reni dalam keterangannya,”  Kamis (28/5/2026).

Menurutnya, durasi musim kemarau tahun ini berkisar antara 16 sampai 18 dasarian. Puncaknya diprediksi pada Agustus dan berakhir di minggu ketiga Oktober hingga awal November.

Selama masa kemarau, pemerintah daerah dan masyarakat diingatkan untuk mempersiapkan langkah antisipatif dengan menyesuaikan pola tanam agar tidak mengalami gagal panen. Terutama di wilayah yang rentan terhadap kekeringan metereologis.

Baca Juga: Awas Monopoli Gaya Baru! KPPU Dorong UU Pasar Digital Antisipasi Sisi Gelap AI dalam Persaingan Bisnis

Selain itu, penting bagi masyarakat untuk mempersiapkan sistem pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien agar tidak kekurangan air bersih. Serta mengantisipasi potensi yang kerap timbul di musim kemarau seperti kebakaran hutan dan lahan. 

“Hal ini berkaitan dengan fenomena El Nino intensitas lemah hingga moderat, setelah pertengahan tahun ada peluang penurunan curah hujan hingga 50-60 persen,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Jogja Nur Hidayat mengungkapkan, bencana kekeringan kecil kemungkinan terjadi di Kota Jogja. Meski begitu, dia mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak selama musim kemarau.

Baca Juga: Operasional Bus Sekolah Terancam Berhenti, Pemkab Gunungkidul Ajukan Izin Gunakan Solar Subsidi

Minimnya potensi kekeringan di Kota Jogja disebabkan letak geografis wilayah yang diapit tiga sungai besar. Meliputi Sungai Code, Sungai Winongo, dan Sungai Gajahwong. Selain itu mayoritas rumah juga sudah tersambung dengan pipa PDAM dan sumur.

“Masyarakat kami imbau selalu mengoptimalkan pemanfaatan air tersebut dengan bijak,”  pesannya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
kekeringan ekstrem penurunan hujan bmkg yogyakarta El Nino Diy