BANTUL - Seniman sekaligus Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta Nor Jayadi berhasil menciptakan furniture dari dua material berbeda. Memadukan kayu jati dan kulit kambing menjadi karya bernama Bufallo Lazy Chair. “Kursi berukuran 76 x 72,5 x 70 centimeter,” beber Jayadi Jumat (29/5).
Selain memiliki desain estetik dan material yang unik, karya tersebut juga mengutamakan unsur ergonomis. Penggunaan material natural bernuansa etnik menjadi daya tarik tersendiri karena sifat bahannya yang alami namun tetap lentur.
Kursi karyanya ini, menjawab perkembangan gaya hidup masyarakat modern. Sebab tidak hanya menjadi sarana duduk, tetapi juga memiliki nilai etnik, estetik, dan ikonik.
Baca Juga: UNS Solo Loloskan 3.624 Mahasiswa Baru Jalur SNBT
Karya unik tersebut juga telah dipamerkan dalam ajang International Exhibition Artistic Synergy: Celebrating the New MOU between Thailand and Indonesia 2025. Menurutnya, setiap desain yang dibuat selalu berorientasi pada produk massal dan kebutuhan pasar. “Karena dengan desain baru, produk akan selalu menarik untuk dipasarkan. Itu yang selalu dicari konsumen,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Anom Wibisono menilai, karya seniman ISI tersebut memiliki kekhasan dan keunikan yang kuat. Baik dari sisi material maupun desainnya.
Menurutnya, perpaduan kayu dengan balutan kulit kambing membuat Bufallo Lazy Chair tampil berbeda. Selain itu, desain kursi tetap memperhatikan kaidah kenyamanan sehingga tidak hanya unik secara visual, tetapi juga nyaman digunakan. Keunikannya terlihat dari material dan desain sandaran punggungnya yang menarik.
Baca Juga: Polres Kulon Progo Selidiki Pungli dengan Modus Lain, Kasus Lurah Garongan Naik ke Tahap Penyidikan
"Bentuknya memberi kesan santai dan tidak formal, sehingga hanya dengan melihatnya saja sudah terasa kenyamanannya,” ujar kurator pameran Thailand–Indonesia 2025 ini.
Dia menambahkan, inovasi desain sangat penting dalam dunia pemasaran furniture karena pasar sangat sensitif terhadap pembaruan desain, tekstur material, estetika, fungsi, hingga aspek ergonomi. “Keunggulan seperti ini memberi nilai lebih yang otentik dan memiliki daya jual internasional. Artinya, desainnya sudah memahami selera pasar global,” katanya.
Baca Juga: Gunakan Restraining Box, Masjid Jogokariyan Minimalkan Stres Sapi Kurban Berbobot 1 Ton
Anom menjelaskan, salah satu pembeda kursi tersebut terletak pada bentuk kaki kursi yang dibuat menyudut dan desain sandaran yang menyerupai topi penggembala. Unsur etnik dan kekuatan karakter desain itulah yang membuat karya tersebut tampil menonjol.
Menurutnya, kursi tersebut cocok ditempatkan di area nonformal seperti lobi hotel, ruang keluarga, teras rumah, maupun area santai kafe bergaya kasual. “Kursi seperti ini nyaman digunakan untuk berbincang atau berdiskusi santai karena tidak memberi kesan formal,” tandasnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova