JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi musim kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dengan potensi pengaruh El Nino yang bertahan hingga akhir tahun.
Kondisi tersebut berisiko menurunkan curah hujan secara signifikan dan memicu kekeringan di sejumlah wilayah DIJ mulai Juni hingga Oktober.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, fenomena El Nino yang bertahan hingga akhir tahun nanti kemungkinan dalam kategori lemah-moderat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi menurunnya curah hujan siginfikan karena peningkatan suhu muka air laut.
Baca Juga: Wow, Puluhan Balon Udara Hiasi Langit Candi Ngawen: Jadi Magnet Wisata Waisak 2570 BE dalam BPF 2026
“Peringatan dini bencana kekeringan mulai bulan Juni, dan potensi kekeringan ekstrem diprediksi terjadi pada bulan Juli–Oktober,” kata Reni saat dikonfirmasi, Minggu (31/5/2026).
Reni menyebut, pada Juni ini peluang hujan di Jogjakarta masuk kategori rendah dengan kisaran 21–100 mm/bulan. Kemudian prediksi di periode Juli-Agustus curah hujan dimungkinkan hilang atau peluangnya berkisar 0–50 mm/bulan. Sehingga bisa memicu peningkatan suhu dan potensi kekeringan.
Menurutnya, kemarau tahun ini juga lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Durasi yang paling rendah mencapai 16 dasarian atau 5,3 bulan. Sementara maksimalnya bisa mencapai periode 21 dasarian atau 7 bulan.
Baca Juga: Kalah Start dari Negara Non-Muslim, RI Baru Kuasai 4 Persen Pasar Ekspor Halal OKI
“Puncak kemarau diprediksi berlangsung selama Agustus dan akan berakhir di November,” ujarnya.
Reni mengimbau agar masyarakat dan pemerintah daerah lebih antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim kemarau karena fenomena El Nino tersebut. Seperti kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya ketersediaan air bersih di wilayah rawan mengalami bencana kekeringan meteorologis.
Kemudian untuk menghadapi kekeringan ekstrem pada Juli hingga Oktober. Dia meminta masyarakat yang berprofesi sebagai petani untuk mempersiapkan pola tanam yang sesuai dan mengambil langkah-langkah pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien.
Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Salurkan Hewan Kurban Iduladha 1447H
“Sebab El Nino setelah pertengahan tahun dapat menurunkan curah hujan dari 50 hingga 60 persen,” bebernya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD DIY Agustinus Ruruh Haryata menyampaikan, pemerintah provinsi (pemprov) sudah menyiapkan distribusi air bersih. Kemudian berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten untuk menyiapkan langkah mitigasi guna mengantisipasi dampak dari musim kemarau ini.
“Musim kemarau tahun 2026 diprediksi lebih panjang dengan potensi pengaruh El Nino lemah hingga moderat,” katanya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita