Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Diindikasi karena Gas Hidrogen, Sudah 73 Titik Api yang Muncul di Rumah Seyegan Sleman

Delima Purnamasari • Senin, 1 Juni 2026 | 21:00 WIB
Para ahli dari berbagai kampus dan unsur pemerintahan saat meneliti terkait munculnya titik api di rumah warga Seyegan, Sleman Senin (1/6).  (Dokumentasi BPBD Sleman)
Para ahli dari berbagai kampus dan unsur pemerintahan saat meneliti terkait munculnya titik api di rumah warga Seyegan, Sleman Senin (1/6).  (Dokumentasi BPBD Sleman)

SLEMAN - Fenomena kebakaran berulang yang terjadi di rumah warga Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman tengah jadi perhatian berbagai pihak. Tim gabungan yang terdiri dari para ahli dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, BPBD, BPTKG, serta unsur kepolisian kembali melakukan pemeriksaan lanjutan Senin (1/6). 

Pemeriksaan dilakukan sejak pukul 08.00 hingga siang hari dengan menyisir area rumah korban, lingkungan sekitar, hingga kawasan sungai, dan saluran air di belakang rumah. Tim gabungan juga mengambil sejumlah sampel gas, air, tanah, dan batuan untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium.

Baca Juga: Kemarau di DIY Diprediksi Lebih Panjang, Maksimal Tujuh Bulan: BMKG Ungkap El Nino Bertahan hingga Akhir Tahun

Fenomena kebakaran ini pertama kali terjadi pada Jumat (22/5) di salah satu kamar rumah korban. Berdasarkan pemeriksaan awal tim KBRN Den Gegana Satbrimob Polda DIJ kebakaran diduga dipicu oleh kebocoran gas metana yang berasal dari saptic tank. Pemilik rumah kemudian telah melakukan pengurasan serta memperbaiki jalur pembuangan dan ventilasi. Namun, kebakaran kembali berulang sehingga tim gabungan dari berbagai disiplin ilmu diterjunkan untuk melakukan penelitian lebih mendalam. 

Koordinator Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM Prof Alva Edy Tontowi mengatakan, hasil pengukuran menunjukkan adanya konsentrasi gas hidrogen yang cukup tinggi khususnya di ruang tengah. Saat penelitian berlangsung, tim bahkan menyaksikan kemunculan titik api di dalam rumah. 

Baca Juga: Wow, Puluhan Balon Udara Hiasi Langit Candi Ngawen: Jadi Magnet Wisata Waisak 2570 BE dalam BPF 2026

"Data-data yang kami ambil akan dimasukan ke lab dan dianalisis secara ilmiah. Hasil pastinya tentu dari hasil lab yang sudah terukur," katanya Senin (1/6). 

Menurutnya, indikasi sementara memang mengarah pada keberadaan gas hidrogen yang dalam kondisi tertentu dapat mengalami auto ignition atau menyala sendiri tanpa adanya sumber api eksternal. Api ini menyala lewat kaus, plastik, dan berbagai medium lain. Lokasi titik api yang muncul memang berpindah-pindah karana pemicunya adalah gas. Ketika konsentrasinya memenuhi syarat dan ada medianya, maka akan timbul titik api. 

Hal senada disampaikan Guru Besar Ilmu Vulkanologi Fakultas Teknik UGM Agung Harijoko. Lewat gas detektor yang bisa melihat kandungan metana, hidrogen, karbon dioksida, dan oksigen, lonjakan signifikan memang terjadi pada gas hidrogen. Temuan ini berbeda dibanding dengan dugaan awal bahwa titik api terjadi karena proses metana dari pembusukan. 

 Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Salurkan Hewan Kurban Iduladha 1447H

"Nah, yang terbakar di ruangan tadi, itu yang langsung naik tinggi, itu adalah gas hidrogennya," katanya. 

 

Dia sebut hidrogen memang memungkinkan menyala di suhu ruangan. Hanya saja yang perlu ditelaah lebih lanjut adalah sumber dan bagaimana pembentukan dari gas hidrogen ini. Tim gabungan sendiri telah mengambil sejumlah sampel dari sumur untuk mengetahui kandungan organik di dalamnya. 

 

"Jadi, proses pembentukan hidrogen dari proses pelapukan atau dekomposisi pembusukan dari organik. Apakah itu yang menghasilkan hidrogen itu yang harus kami periksa lagi," katanya. 

 

Sementara itu, pemilik rumah Mutfiana menjelaskan, sejak awal terjadi sudah ada 73 titik api yang tersebar di 65 lokasi berbeda. Meski demikian, dia mengaku sudah lebih tenang dengan adanya tim gabungan dari berbagai ahli yang turut melakukan penyelidikan. Hal ini menunjukkan bahwa yang terjadi bukanlah hal mistis, tetapi hal ilmiah yang bisa dipelajari. 

 

"Sudah lebih tenang, tapi tetap harus waspada karena ini belum berakhir. Kami juga masih menunggu hasil bagaimana, mungkin beberapa hari lagi," ungkapnya. 

 

Akibat kejadian ini keluarga korban untuk sementara mengungsi ke rumah kerabat guna menghindari risiko yang tidak diinginkan. Penelitian lanjutan sendiri dijadwalkan dilakukan pada malam hari guna memperoleh data tambahan. (del/eno) 

 

Editor : Sevtia Eka Nova
#seyegan #titik api #gas hidrogen #sampel gas #kebakaran