YOGYAKARTA —Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) yang tergabung dalam mitra Gojek melakukan konvoi di pusat Kota Jogja.
Massa pengemudi ojol tersebut mulai memadati titik awal berkumpul aksi solidaritas di Lapangan Parkir Timur Stadion Kridosono pada Selasa (2/6/2026) pagi pukul 08.00 WIB.
Pergerakan memicu kepadatan arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan utama di Yogyakarta.
Berdasarkan pergerakan di lapangan, rombongan konvoi memulai perjalanan dari Stadion Kridosono lalu bergerak ke arah timur menuju Jalan Atmosukarto.
Selepas itu, massa akan berbelok ke kanan menuju Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo, berlanjut ke Jalan Gayam, hingga masuk ke Jalan Sukonandi. Di lokasi ini, para pengemudi ojol sempat berhenti sejenak untuk menggelar orasi di depan kantor Kejaksaan Tinggi DIY.
Baca Juga: Sambut Musim Mahasiswa Baru, Santi Mebel Perbanyak Stok Spring Bed dan Kasur
Dalam orasi yang disampaikan, massa juga membawa pesan dan tuntutan khusus yang ditujukan kepada Nadiem Makarim selaku salah satu tokoh pendiri Gojek.
Pengemudi berharap, meski sang pendiri telah lama berada di luar struktur operasional harian, pesan solidaritas dari akar rumput ini dapat didengar sebagai pengingat moral agar pihak manajemen korporasi saat ini tidak mengabaikan aspek kesejahteraan, regulasi tarif yang adil, serta perlindungan hukum bagi para mitra yang bekerja di garis depan.
Setelah melakukan orasi singkat, iring-iringan konvoi bergerak kembali ke arah selatan menuju Jalan Kusumanegara, lalu melintasi Jalan Sultan Agung serta Jalan Panembahan Senopati.
Perjalanan kemudian diteruskan dengan berbelok ke kanan menyusuri Jalan Mayor Suryotomo menuju Jalan Mataram.
Memasuki agenda inti aksi, rombongan pengemudi ojol ini berbelok ke kanan untuk memasuki kawasan semi-pedestrian Jalan Malioboro dan Jalan Margo Utomo.
Konvoi solidaritas ini akhirnya memusatkan titik akhir pergerakan mereka di depan Gedung Agung atau Istana Kepresidenan Yogyakarta guna menyampaikan seluruh pernyataan sikap dan aspirasi mereka secara terbuka kepada publik. (Tita Aurelia Pitaloka)
Editor : Bahana.