Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Ini Alasan Prioritaskan Pengembangan Awal Sumbu Folosofi di Kawasan Gumaton sebelum Sampai Panggung Krapyak  

Fahmi Fahriza • Senin, 8 Juni 2026 | 22:05 WIB
Tugu Jogja.GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
Tugu Jogja.GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

JOGJA – Balai Pengembangan Kawasan Sumbu Filosofi (BPKSF) DIY memberikan fokus tahap awal pengembangan pada kawasan Tugu, Malioboro, dan Keraton (Gumaton). Dengan mewujudkan kawasan rendah emisi dan lebih nyaman bagi pengunjung. 

Sementara itu, penataan kawasan selatan hingga Panggung Krapyak akan dilakukan secara bertahap setelah melalui berbagai kajian sosial, ekonomi, dan tata ruang.

Kepala BPKSF DIY Aryanto Hendro Suprantoro mengatakan, Malioboro menjadi fokus utama karena merupakan kawasan yang paling padat aktivitas sekaligus destinasi yang hampir selalu dikunjungi wisatawan saat datang ke Jogja.

Kawasan tersebut dianggap sebagai ruang tamu sekaligus etalase Jogja, sehingga perlu mendapatkan perhatian lebih dahulu sebelum penataan diperluas ke wilayah lain dalam koridor Sumbu Filosofi.

Baca Juga: Muncul Teror Pocong di Solo, Polisi Selidiki Motif Pelaku yang Mengarah Unsur Pidana

"Berdasar data yang ada, kawasan paling padat atau sibuk itu Malioboro. Maka kita akan mulai dari bagaimana menata Malioboro agar lebih nyaman, karena hampir 90 persen wisatawan pasti ke Malioboro," ujarnya, Senin (8/6/2026).

Ia menjelaskan, upaya menuju kawasan rendah emisi sebenarnya telah dimulai dalam beberapa tahun terakhir. Di antaranya melalui penggantian becak motor menjadi becak listrik serta penerapan pedestrianisasi di kawasan Malioboro.

Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk mengurangi emisi karbon di kawasan Sumbu Filosofi, meskipun belum memungkinkan untuk mencapai kondisi nol emisi. "Mungkin kita tidak bisa katakan nol emisi karbonnya, tapi saya kira upaya mewujudkan itu menjadi kawasan yang rendah emisi sudah dimulai," jelasnya.

Baca Juga: Minyakita Langka selama Dua Bulan Terakhir di Kota Jogja, Pedagang Beralih Jual Migor Curah: Pemkot Pastikan Ini

Terlebih, pada November mendatang pemerintah juga sudah berencana memperpanjang durasi pedestrianisasi di Malioboro sebagai salah satu langkah menciptakan kawasan yang lebih nyaman bagi pejalan kaki dan wisatawan. 

Meski demikian, skema finalnya masih terus dibahas dengan mempertimbangkan berbagai dampak yang mungkin muncul.

Selain itu, pihaknya belum memastikan waktu pelaksanaan secara menyeluruh untuk pengembangan kawasan selatan Sumbu Filosofi hingga Panggung Krapyak. Sebab, proses tersebut membutuhkan kesiapan yang lebih kompleks dibandingkan pembangunan fisik semata.

Baca Juga: Guguran Lava Pijar Terjadi Ratusan Kali dalam Sehari, Dubes Perancis Kunjungi Pos Pengamatan Gunung Merapi, Babadan, Magelang

Kajian yang dilakukan tidak hanya menyangkut infrastruktur dan lalu lintas, tetapi juga dampak ekonomi bagi warga serta kesiapan sosial masyarakat yang terdampak.

"Kalau di sisi selatan kesiapannya tidak mudah, baik secara sosial masyarakatnya, lalu dampak ekonomi yang harus dihitung cermat, pengaturan lalu lintas, hingga kebutuhan ruang. Itu perlu dilakukan kajian yang serius," terangnya.

Meski demikian, berbagai upaya menuju penataan kawasan selatan disebut telah mulai dilakukan OPD sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Selain itu, pemerintah desa juga dinilai memiliki peran penting dalam mempersiapkan masyarakat menghadapi perubahan di masa mendatang.

Dicontohkan, Pemerintah Kalurahan Panggungharjo yang selama ini aktif menyiapkan program pengembangan pariwisata dan UMKM sebagai bagian dari rencana penataan kawasan selatan.

Baca Juga: Korban Tercebur Sumur di Ngaglik, Sleman Berhasil Diselamatkan Kurang dari 15 Menit

"Pemerintah desa Panggungharjo juga sudah memiliki grand design. Ini menarik untuk dikolaborasikan dengan kebijakan pemerintah provinsi maupun kabupaten dan kota," tambahnya.

Ia menegaskan, fokus utama pemerintah saat ini tetap menyelesaikan penataan kawasan Gumaton terlebih dahulu. Selain karena menjadi wajah utama Jogja di mata wisatawan, keberhasilan penataan kawasan tersebut juga diharapkan menjadi fondasi bagi pengembangan kawasan Sumbu Filosofi secara lebih luas pada tahap berikutnya.

"Gumaton selama ini menjadi ruang tamu bagi para pengunjung. Karena itu perlu mendapat perhatian utama, baik dari pemerintah maupun masyarakat," imbuhnya. (iza/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#rendah emisi #Sumbu Folosofi #Gumaton #Panggung Krapyak #etalase Jogja