JOGJA - Keputusan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menyetop program makan bergizi gratis (MBG) selama masa libur sekolah ternyata direspons beragam oleh orang tua (ortu). Mayoritas menilai, program besutan Presiden Prabowo itu harus dilakukan evaluasi.
Salah satu ortu anak Dewi Wahyuni mengatakan, MBG sejatinya program yang bagus. Namun, implementasinya dinilai masih kurang maksimal. Sebab, selama menjadi penerima MBG, anaknya mulai bosan dengan menu yang disajikan. Ini karena rotasi menu yang disajikan dapur SPPG cenderung monoton.
“Programnya sih awalnya bagus, tapi makin ke sini anak tidak suka menunya karena itu-itu saja. Jujur malah banyak yang tidak kemakan,” ujar Dewi saat ditemui Radar Jogja di Kota Jogja, Senin (22/6/2026).
Sehingga wanita asal Kapanewon Depok, Sleman itu menyarankan agar pemerintah mengevaluasi program tersebut. Misalnya dengan memberikan anggaran MBG langsung kepada orang tua. Supaya ortu bisa membelanjakan sendiri bahan pangan dan menentukan sendiri menu makanan bergizi untuk anak.
Ortu lain Titik juga beranggapan sama. Bagi dirinya program MBG kurang efektif. Sebab, sebelum program MBG berjalan anaknya juga sudah rutin dibuatkan bekal makan siang dan sarapan dari rumah.
Selama program MBG berhenti di masa libur sekolah, warga Kapanewon Mlati itu justru menilai bisa menjadi momen yang tepat untuk melakukan evaluasi.
Baca Juga: Usai Adanya Kasus Bullying di SMAN 2 Bantul, Sarang Lidi Desak Perombakan Sistem
Dia tidak menolak apabila nantinya alokasi anggaran MBG diuangkan langsung kepada orang tua. Namun ada langkah lebih bijak, seperti anggaran MBG dialihkan ke bantuan biaya pendidikan anak.
Titik menilai, bantuan biaya pendidikan lebih dibutuhkan oleh orang tua pada kondisi perekonomian saat ini. Pun menurutnya juga masih banyak ortu dari kalangan menengah ke bawah yang kesulitan mencukupi kebutuhan pendidikan anak-anaknya.
Terkait dengan perjalanan program MBG selama ini, dia memandang sudah cukup bagus dalam hal pemenuhan gizi anak. Sebab menu yang disajikan sudah sesuai dengan angka kecukupan gizi.
“Namun jika memang mau disetop, lebih baik dialokasikan untuk bantuan pendidikan. Karena pendidikan gratis itu pasti sangat membantu sekali bagi orang tua menengah ke bawah,” ujarnya.
Sebelumnya, BGN menyetop program MBG selama libur sekolah dengan menerbitkan Surat Edaran Nomor 12 tahun 2026. Edaran tersebut berisi tentang penyesuaian operasional SPPG saat periode hari libur dalam penyelenggaraan program MBG.
Kebijakan itu ternyata menimbulkan keresahan bagi mitra pemilik dapur. Ketua DPW Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas DIY A Supriyanto menyebut, penghentian MBG bakal berdampak pada perekonomian di tingkat bawah.
Lantaran mitra dapur terpaksa meliburkan karyawannya dan menghentikan sementara pasokan dari para petani dan supplier.
Baca Juga: Guru Cabul Pelaku Pelecehan terhadap SPG di Solo Terancam Sanksi Berat, Jabatan PPPK Bisa Dicopot
Adapun di DIY ada 460 dapur yang akan terdampak kebijakan tersebut. Sehingga diharapkan pemerintah pusat bisa mengkaji ulang pemberhentian program MBG selama masa libur sekolah.
“Keluarnya Surat Edaran Nomor 12 memberatkan dan kami rasa sangat sewenang-wenang terhadap mitra,” tegasnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita