GUNUNGKIDUL - Musim kemarau di Gunungkidul tidak hanya memunculkan ancaman kekeringan dan kebakaran hutan. Meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar sangat berpotensi terjadi, khususnya monyet ekor panjang (MEP) yang diperkirakan akan semakin sering masuk ke kawasan permukiman untuk mencari sumber makanan.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan, ekspansi MEP diprediksi terjadi seiring berkurangnya ketersediaan pakan alami di kawasan hutan selama musim kemarau.
Terlebih, kata dia, tahun ini kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang dan kering dibandingkan tahun lalu. Ia menyebut, perhatian terhadap potensi gangguan satwa liar menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana selama musim kemarau.
Baca Juga: Respons Ortu Beragam saat Progam MBG Diliburkan, Minta Diuangkan hingga Dialihkan ke Pendidikan
“Ketersediaan pakan di habitat monyet juga menurun, sehingga ada potensi mereka bergerak mendekati permukiman warga untuk mencari makanan,” ujarnya kepada wartawan, Senin (22/6).
Menurut Purwono, perilaku monyet ekor panjang cenderung menjadi lebih agresif ketika sumber makanan semakin terbatas. Kondisi tersebut, menurutnya dapat meningkatkan risiko kerusakan tanaman maupun gangguan terhadap aktivitas masyarakat.
Meski belum menyiapkan langkah khusus untuk menekan potensi ekspansi satwa liar tersebut, BPBD mengimbau masyarakat agar tidak melakukan tindakan yang dapat memicu konflik dengan hewan liar.
Warga diminta menghindari tindakan kekerasan terhadap monyet yang masuk ke lingkungan permukiman. Sebab, tindakan tersebut justru berpotensi memancing respons agresif dari satwa liar maupun kelompoknya.
“Kalau ada monyet masuk kampung, jangan diusir dengan cara melukai atau melakukan kekerasan. Itu bisa membuat monyet menjadi agresif dan membahayakan warga,” tegas Purwono.
Sebagai alternatif, masyarakat disarankan menggiring monyet keluar dari kawasan permukiman menuju area hutan. BPBD, kata dia, menilai cara tersebut lebih aman. Menurutnya, petani kerap memanfaatkan anjing untuk membantu menghalau kawanan monyet dari lahan pertanian.
Suara gonggongan anjing biasanya cukup efektif membuat satwa tersebut menjauh tanpa harus melukai. “Yang kami rekomendasikan adalah menggiring kembali ke habitatnya. Banyak petani menggunakan bantuan anjing untuk menghalau monyet karena lebih efektif dan minim risiko,” imbuhnya.
Kepala Subbagian Tata Usaha Damkar dan Penyelamatan (Damkarmat) Gunungkidul Ngadiyono mengakui laporan gangguan monyet ekor panjang biasanya meningkat ketika musim kemarau berlangsung.
Meski penanganan satwa liar berada di bawah kewenangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), pihaknya tetap memberikan respons awal ketika menerima laporan dari masyarakat.
“Edukasi kepada masyarakat menjadi langkah pertama yang dilakukan petugas,” jelasnya.
Hal tersebut ditujukan agar warga tidak mengambil tindakan di luar prosedur. Sebab, kata dia, MEP merupakan bagian dari satwa liar yang keberadaannya dilindungi. Dalam kondisi tertentu, apabila satwa dinilai membahayakan dan tidak dapat diarahkan kembali ke habitatnya, penanganan dapat dilakukan bersama BKSDA menggunakan peralatan khusus seperti senapan bius.
“Jika sudah sangat agresif, penanganannya bisa menggunakan tembak bius oleh petugas yang berwenang. Setelah itu bisa direhabilitasi atau dilepasliarkan kembali ke habitatnya,” tuturnya. (bas/pra)
Editor : Heru Pratomo