JOGJA – Sistem penerimaan murid baru (SPMB) jenjang SD di Kota Jogja resmi berakhir Jumat (26/6/2026).
Namun, di balik penutupan itu, ada fenomena sekolah masih kekurangan siswa di Jogja yang berjuluk sebagai kota pelajar. Salah satunya terjadi di SD Negeri (SDN) Kintelan 2 Kelurahan Keparakan, Kemantren Mergangsan.
Matahari terasa cukup terik, namun kondisi itu tidak menyurutkan semangat para guru yang sabar menanti di depan meja pendaftaran. Mereka masih menjaga asa, menanti barangkali masih ada calon siswa baru yang ingin mendaftar di menit-menit akhir.
Namun, hingga pukul 14.00 atau pendaftaran resmi ditutup, SDN Kintelan 2 tercatat hanya mampu menyerap enam siswa pada tahun ajaran ini. Jumlah yang sangat sedikit dan kontras di tengah padatnya permukiman tengah kota, Kampung Kintelan.
Kepala SDN Kintelan 2 Jogja Kuswanto mengungkapkan, jumlah enam siswa yang masuk terbilang cukup bagus. Naik signifikan dibandingkan tahun lalu yang hanya ada tiga siswa baru.
Letak geografis sekolah yang berada di tengah-tengah kampung disebut menjadi kendala. Sebab, sekolah sering luput dari radar para orang tua. Selain itu, minimnya jumlah siswa juga membentuk stigma negatif di masyarakat, dipandang sekolah kurang berkualitas.
“Tapi kalau mereka tahu di dalamnya, kami tidak kalah dengan yang lain. Dari kegiatannya, hasil pembelajarannya, kualitas guru, hingga pelayanannya, justru kami lebih total dalam melayani masyarakat,” ujat Kuswanto saat ditemui di ruangannya.
Baca Juga: Makin Ekspresif, New Honda BeAT Hadir Sesuai Gaya Hidup Terkini
Meski dihadapkan dengan keadaan itu, mantan tenaga pendidik di SDN Jetisharjo itu enggan menyerah. Sejumlah program unggulan sudah disiapkan. Bahkan juga sudah terbukti dalam ujian tes kemampuan akademik (TKA) tahun lalu, salah satu siswa dari sekolah tersebut berhasil menembus nilai tertinggi di angka 90.
Metode penanganan siswa juga dipastikan tetap prima, mengingat jajaran pendidik di SDN Kintelan 2 banyak yang memiliki rekam jejak mengajar dari sekolah-sekolah besar. Pihak sekolah pun menawarkan pendekatan belajar mengajar sangat personal, privat, dan hangat mengingat jumlah siswa yang sedikit.
Kuswanto menegaskan, sekolah yang dinahkodainya juga terus melakukan gerilya untuk mendongkrak jumlah siswa. Program promosi sekolah tidak hanya dilakukan langsung, kini mulai merambah ke media sosial untuk menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Kuliner Daging Kambing Ikonik di Kebumen yang Menggoyang Lidah
Meski begitu, pihak sekolah menaruh harapan besar agar pemerintah kota bersedia turun tangan membantu memperluas promosi. Ini agar program dan potensi SDN Kintelan 2 bisa semakin dikenal.
“Karena memang tempat kami masih kurang banyak siswa dan sistemnya bukan RTO (real time online), calon siswa bisa datang ke sini langsung mendaftar walaupun SPMB sudah berakhir,” tandas Kuswanto.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Jogja, total ketersediaan kursi untuk kelas satu SD negeri di Kota Jogja mencapai 3.700 kursi. Namun pada SPMB tahun lalu jumlah bangku yang terisi hanya berkisar di angka 2.700 siswa.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengaku sudah mengumpulkan seluruh kepala sekolah SD negeri. Mereka diinstruksikan untuk tidak lagi pasif dan wajib pasang strategi proaktif untuk menarik minat siswa baru.
”Kepala sekolah SD harus proaktif membenahi sekolahnya, proaktif mencari siswa. Promosikan kalau SD negeri itu bagus,” tegas Hasto belum lama ini. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita