SLEMAN - Video adu argumen antara Wakil Rektor Bidang SDM dan Hukum UNY Siswanto dengan mahasiswa viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, Siswanto menyebut spanduk penolakan kampus mengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibawa massa aksi sebagai "sampah" dan "kotor".
Salah satu perwakilan Aliansi Mahasiswa UNY, Andri menjelaskan, aksi itu dilaksanakan pada Rabu (24/6) lalu. Mereka memang sengaja memilih momen yang bertepatan dengan wisuda agar semakin banyak orang melihat dan penyampaian pesan yang dibawa bisa bertambah luas.
Awalnya mereka berencana untuk membentangkan spanduk di tangga gedung Rektorat UNY untuk difoto. Dia mengaku tidak ingin lama-lama karena paham banyak wisudawan yang ingin berfoto di lokasi tersebut. Tujuan utama mereka sebenarnya adalah melangsungkan aksi di gerbang utama kampus. "Tapi sebelum memasuki area tangga rektorat, kami sudah dicegat di selasar oleh banyak satpam dan salah satunya Pak Warek," katanya dihubungi Jumat (26/6).
Aliansi Mahasiswa UNY sendiri membawa dua spanduk besar dengan ukuran sekitar 2x2 meter. Satu bertuliskan, "Rektor kampus pendidikan, tidak paham pendidikan!!! Kampus dijadikan tempat memasak makanan bukan memasak pikiran. Kami mahasiswa UNY menolak SPPG". Lalu satu lagi berbunyi, "Untrust Prabowo. Sorry yeee, Reformasi Sudah Mati. Orback!!!"
Andri mengaku tidak menyangka dengan tindakan dari warek. "Kami sempat kaget ya, kenapa bisa dengan bahasa yang seperti itu? Karena kami juga jarang menemukan bahasa-bahasa yang menyebut sampah, ini kotor, di dalam aksi selama ini," lontarnya.
Secara pribadi, dia awalnya tidak tahu bahwa yang menghadang mereka adalah warek. Saat pernyataan soal sampah dan kotor tersebut terlontar, dia bahkan mengaku syok dan sempat tidak bisa menjawab apa-apa.
"Harusnya kalau enggak boleh, bisa berkomunikasi dengan baik-baik. Jangan sampai menghina aksi kami," ujarnya.
Dia membenarkan bahwa warek sempat menanyakan kepastian SPPG yang dikelola oleh UNY. Hanya saja Andri menilai, aksi ini dilatarbelakangi pernyataan rektor yang mengaku siap mengelola SPPG.
Meski kepemilikan SPPG di UNY memang belum ada, pembentangan spanduk protes adalah aksi antisipasi sebelum program tersebut terlanjur berjalan. Sebab menurutnya, program tersebut memiliki banyak celah untuk terjadi korupsi. Bahkan praktik di lapangan juga ada banyak peristiwa keracunan. Selain itu, MBG juga memangkas biaya pendidikan dan memicu efisiensi. "Kampus tempatnya orang pinter, masak tidak kritis dan menerima-menerima aja," lontarnya.
Sementara itu, Warek Bidang Sumber Daya Manusia dan Hukum UNY Siswanto menjelaskan, aksi teatrikal di aula gedung rektorat dilakukan tanpa izin. Padahal, di tempat tersebut sedang banyak mahasiswa dan orang tua usai prosesi wisuda. "Material teatrikal mengotori lantai dan ada tulisan tidak pantas," katanya.
Terkait beredarnya foto mobil SPPG di area kampus, Siswanto menyebut karena sedang mengantarkan MBG ke tempat penitipan anak (TPA) UNY. "TPA UNY ini memang mendapatkan jatah MBG," ungkapnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova