JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena bediding yang mulai terasa di Yogyakarta bisa mencapai suhu terendah 17 derajat Celcius.
Selain karena difaktori angin monsun dingin Australia juga dipicu intensitas hujan yang rendah.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, fenomena bediding terjadi karena angin monsun dingin Australia. Yakni pergerakan massa udara dari Australia yang membawa udara dingin dan kering menuju Asia melewati Indonesia.
Baca Juga: Tolak Status Tersangka dan Protes Penggeledahan Rumahnya, Raudi Akmal Tempuh Upaya Praperadilan
Selain dipicu angin tersebut, fenomena bediding juga dipicu intensitas hujan yang rendah. Serta tutupan awan yang relatif sedikit menyebabkan pantulan panas dari bumi yang diterima dari sinar matahari pada siang hari tidak tertahan oleh awan.
“Akibatnya, panas tersebut langsung terbuang dan hilang ke angkasa pada malam hingga dini hari,” ujar Reni saat dikonfirmasi, Kamis (2/7/2026).
Berdasarkan data pemantauan suhu minimum selama periode 21-30 Juni 2026, suhu udara paling rendah tercatat pada 17,4 derajat Celcius di Kapanewon Pakem.
BMKG memprediksi kondisi udara dingin tersebut akan terus berlangsung hingga Agustus mendatang.
Reni Kraningtyas mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga kesehatan dan kondisi tubuh. Seperti menggunakan pakaian atau selimut tebal saat malam hari, dan pastikan suhu pendingin ruangan tidak diatur terlalu rendah.
Pasalnya, di tengah kondisi udara dingin gangguan kesehatan bisa meningkat. Seperti risiko penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus atau bakteri, kulit dan bibir kering, hingga mimisan.
“Waspadai juga jika paparan udara dingin terus berlangsung, karena dapat menyebabkan penurunan suhu tubuh atau hipotermia,” pesannya.
Baca Juga: Suka Bikin Ketawa? Ini 5 Karakter Unik Orang Humoris yang Jarang Diketahui
Sementara itu, salah satu warga Kemantren Wirobrajan Purwanto mengungkapkan, suhu dingin sangat terasa pada periode malam hingga menjelang siang hari. Menurutnya fenomena bediding tahun ini yang paling menusuk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menghadapi fenomena tersebut, Purwanto saat ini mulai mengurangi kegiatan di luar ruangan saat malam hari. Hal tersebut dilakukan agar terhindar dari penyakit yang biasa muncul di suhu dingin seperti flu dan demam.
“Kondisi seperti ini memang harus rajin-rajin jaga kondisi tubuh,” katanya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita