BANTUL - Tim SAR gabungan menemukan Taufan Aktafiama, 27, wisatawan yang tenggelam di kawasan Lembah Sungai Oya, Imogiri Selasa (21/7). Korban ditemukan meninggal dunia pada hari kedua pencarian sekitar lima meter dari lokasi kejadian. Sebelumnya korban dilaporkan tenggelam saat berenang tanpa mengenakan pelampung.
Koordinator Unit Siaga SAR DIY Nugroho Adi mengatakan, tim dibagi menjadi empat search and rescue unit (SRU). Tim SRU 1 menggunakan perahu rafting dengan alat bantu jangkar yang dipasang menggunakan tali panjang. SRU 2 menggunakan drone kapal yang dilengkapi sonar.
Baca Juga: Job Fair di Jogja Diserbu 1.858 Pencari Kerja, Pemkot Targetkan Minilam 50 Orang Diterima
Selanjutnya, SRU 3 melakukan penyisiran melalui jalur air. Tim ini tidak menggunakan kapal, melainkan hanya mengenakan life jacket serta menggunakan alat bantu seperti galah. SRU 4 melakukan pemantauan dari jalur darat.
"Area pencarian telah dipetakan dan dibagi berdasarkan kedalaman untuk memudahkan proses penyisiran,” katanya saat ditemui Selasa (21/7).
Lanjutnya, satu tim penyelam dari Basarnas yang terdiri atas empat personel diterjunkan. Sortie pertama dilakukan hingga kedalaman sekitar delapan hingga sembilan meter, namun belum membuahkan hasil. Pada sortie kedua, penyelam bergeser mendekati dinding atau tebing sungai.
Nugroho menjelaskan, berdasarkan informasi dari pengelola, warga, dan saksi mata, korban yang merupakan warga Grujugan RT 6, Bantul, datang bersama temannya, Budhi Irawan, 23, warga Ngeposari, Semanu, Gunungkidul. "Mereka awalnya mau berenang tanpa menggunakan life jacket," katanya.
Baca Juga: PSIM Jogja Resmi Rekrut Alwi Fadilah, Solusi Muda untuk Lini Belakang
Pihak pengelola sebenarnya telah mengingatkan bahwa seluruh pengunjung wajib menggunakan alat apung atau alat keselamatan saat berwisata di lokasi tersebut. Namun, saat itu hanya Budi Irawan yang mengenakan life jacket. Sedangkan korban tetap menolak menggunakannya.
Keduanya kemudian berenang dan lepas dari pantauan pengelola. Budi teman korban tidak menyadari korban yang tidak mengenakan life jacket telah tenggelam. "Jadi yang menggunakan life jacket itu kembali ke posisi tepian sungai," katanya.
Beberapa menit kemudian, temannya baru menyadari korban telah hilang. Ia kemudian meminta bantuan kepada pengelola. Dari hasil pemeriksaan awal, adanya indikasi korban mengonsumsi minuman beralkohol. "Menurut keterangan teman korban, ada aroma alkohol dari korban, ditemukan ada botol bekas minuman alkohol di tas korban," tuturnya.
Menurutnya, kendala utama dalam proses pencarian bukan pada jarak pandang di bawah air yang relatif baik, melainkan kontur bebatuan yang menjadi hambatan bagi para penyelam. Menurut Nugroho, pengelola wisata sebenarnya telah menerapkan standar operasional prosedur (SOP) dengan baik.
Pengelola belajar dari kejadian tenggelam yang pernah terjadi sebelumnya ditempat yang berbeda hingga menyebabkan kawasan wisata sempat ditutup dan berdampak pada mata pencaharian warga. Setelah tempat wisata dibuka kembali, pengelola melakukan berbagai pembenahan, termasuk mengikuti pelatihan penyelamatan di air yang diberikan Basarnas selama sekitar empat hari.
Dalam SOP yang diterapkan, seluruh pengunjung diwajibkan mengenakan pelampung dan pengelola secara aktif mengingatkan wisatawan agar mematuhi aturan tersebut. "Jadi kalau wisata ingin aman, ya kalian mau main kano silakan, mau berenang silakan. Tapi wajib menggunakan alat pelampung," pungkasnya. (cin/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova