Bukit Menoreh di Wilayah Kulon Progo Kembali Terbakar, Warga Setempat Dilanda Kelangkaan Air Bersih

Azri Ghaida Nur Ilya Nahdi • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 14:41 WIB
Ilustrasi kebakaran hutan. (Unsplash)
Ilustrasi kebakaran hutan. (Unsplash)

 

RADAR PURWOREJO - Bukit Menoreh kembali dilanda kebakaran.

Pada Selasa (22/7/2026) dini hari, kawasan lereng hutan membakar vegetasi kering di kawasan perbukitan yang sulit dijangkau oleh petugas.

Dikarenakan medannya yang curam dan minimnya akses jalan, sehingga upaya pemadaman lebih banyak difokuskan pada pemantauan dan pencegahan meluasnya titik api.

Namun untungnya tak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian ini.

Beberapa kali sebelumnya, kawasan perbukitan ini juga sempat dilanda kebakaran sejenis.

Baca Juga: Dari Sawah ke Meja Makan, Apa Kaitan Sektor Pertanian dengan Badan Gizi Nasional?

Penyebabnya sering dikaitkan dengan cuaca kemarau panjang, kekeringan vegetasi, hingga kelalaian warga yang membakar sampah atau lahan di sekitar hutan
Kebakaran ini terjadi tak lama setelah kawasan itu terjerat masalah kelangkaan air bersih.

Sekitar sembilan keluarga atau 20 jiwa warga Padukuhan Sonyo, Kalurahan Jatimulyo, Kapanewon Girimulyo, Kulon Progo mengalami kesulitan air bersih pada awal juli lalu. 

Penyebabnya karena sumber mata air yang mereka andalkan tak lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Warga bahkan harus membuat penampungan darurat dan menerima banutan dropping air dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Baca Juga: Menyambut Gerhana Matahari Total Agustus Mendatang sebagai Bukti Kebesaran Allah dan Anjuran Bagi Umat Islam

Sebelum akhirnya dialirkan manual melalui selang menuju rumah-rumah warga yang sulit untuk dijangkau kendaraan tangki air.

Dua peristiwa ini berakar dari sumber masalah yang sama, yaitu musim kemarau yang membuat kawasan bukit Menoreh yang memiliki kondisi kontur tanah dan vegetasinya yang khas.

Akhirnya menghadapi tekanan dari dua arah sekaligus, kekurangan air dan kerentanan kebakaran.

Yang lebih perlu diwaspadai, kondisi saat ini bahkan belum mencapai puncaknya.

Baca Juga: Bantu Pejalan Kaki Menyeberang Jalan Raya, Polisi di Bantul Terluka Usai Tertabrak Pemotor

Sejumlah wilayah di DIY, termasuk kawasan yang berdekatan dengan Bukit Menoreh, diproyeksikan baru akan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026.

Meski tanpa korban jiwa, namun berulangnya kejadian serupa dari tahun ke tahun menjadi pengingat bahwa kawasan perbukitan seperti Menoreh membutuhkan langkah antisipasi yang lebih.

Terutama menjelang puncak kemarau nanti.

Masyarakat diminta waspada terhadap potensi kebakaran hutan di musim kemarau ini.

Sebab, vegetasi kering akan mudah terbakar.

Baca Juga: Remaja 16 Tahun Tewas di Sungai Bogowonto Purworejo, Petugas Berjibaku Evakuasi Korban

Dampaknya sangat berbahaya bagi makhluk hidup di sekitarnya.

Mengancam binatang yang bersarang di hutan, juga pemukiman penduduk sekitar.

Polusi udara dan kabut asap dapat berdampak pada kesehatan .

Editor : Meitika Candra Lantiva
Bukit Menoreh Kelangkaan Air Bersih Girimulyo kebakaran KULON PROGO