Waspada! Karst Gunungkidul Paling Rawan Kekeringan, Disusul Pesisir Bantul-Kulon Progo: Begini Penjelasan BMKG Yogyakarta

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 20:03 WIB
Warga Kapanewon Tanjungsari sedang memandangi pembangunan di area perbukitan karst Pantai Watu Bolong. DOK. RADAR JOGJA
Warga Kapanewon Tanjungsari sedang memandangi pembangunan di area perbukitan karst Pantai Watu Bolong. DOK. RADAR JOGJA

JOGJA - BMKG Yogyakarta menetapkan kawasan karst Gunungkidul sebagai wilayah paling rawan kekeringan pada musim kemarau 2026.

Pesisir Bantul dan Kulon Progo menyusul sebagai daerah berisiko tinggi karena minimnya cadangan air dan kemarau yang diprediksi lebih panjang.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, kawasan karst di Gunungkidul merupakan wilayah sangat rawan kekeringan karena memiliki cadangan air yang sangat terbatas.

Baca Juga: Apa Itu Asalha Mahapuja? Ini Makna di Balik Kirab yang Tutup Jalur Borobudur Magelang Minggu 26 Juli 2026

Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 3045 K/40/MEM/2014, kawasan bentang alam karst meliputi 14 kemantren. Di antaranya Kapanewon Karangmojo, Nglipar, Paliyan, Ponjong, Purwosari, Rongkop, Girisubo, Saptosari, Semanu, Tanjungsari, Tepus, dan Wonosari.

Kemudian untuk wilayah yang masuk rawan kekeringan tersebar di wilayah pesisir Kulon Progo dan Bantul. Lantaran ketersediaan air sangat bergantung pada hujan dan sumber air yang terbatas. Meliputi Kapanewon Kretek, Sanden, dan Srandakan (Bantul), serta Kapanewon Temon, Wates, Panjatan, dan Galur (Kulon Progo).

“Wilayah Sleman bagian timur dan utara masuk kategori sedang. Sementara Kota Jogja masuk kategori rendah kekeringan karena jaringan air bersih cukup baik,” ujar Reni saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Minggu (26/7/2026).

Baca Juga: Driver Ojol, Pedagang Online, dan Dosen: Tiga Orang di Balik Gugatan Kuota Hangus ke MK

Ia mengingatkan agar wilayah-wilayah rawan mewaspadai potensi kekeringan ekstrem. Sebab pada tahun ini musim kemarau diprediksi lebih panjang. Akibat adanya aktivitas El Nino yang bertahan hingga akhir tahun.

Berdasarkan pantauan BMKG, sejumlah wilayah juga telah mengalami hari tanpa hujan secara berturut-turut. Adapun yang masuk kategori menengah (11–20 hari) di Kapanewon Semanu (Gunungkidul), kemudian kategori panjang (21-30 hari) terdeteksi di Kapanewon Cangkringan, Ngaglik, Pakem, Turi (Sleman).

Sementara untuk yang sudah masuk kategori sangat panjang (31-60 hari) meliputi Kapanewon Bambanglipuro, Banguntapan, Dlingo, Imogiri, Kasihan, Kretek, Piyungan, Pleret, Sanden, Sedayu, Sewon, Srandakan (Bantul), Berbah, Depok, Gamping, Godean, Kalasan, Minggir, Mlati, Moyudan, Ngemplak, Prambanan, Seyegan, Sleman, Tempel (Sleman).

Baca Juga: Jelang Super League 2026/2027 PSIM Kebut Pembenahan SSA, Kejar Standar 1.600 Lux dan 5.000 Single Seat

Lalu Kapanewon Gedangsari, Girisubo, Karangmojo, Ngawen, Paliyan, Panggang, Patuk, Playen, Ponjong, Saptosari, Semin, Tanjungsari, Tepus, Wonosari (Gunungkidul). Kemudian Kapanewon Galur, Girimulyo, Kalibawang, Kokap, Lendah, Nanggulan, Panjatan, Pengasih, Samigaluh, Sentolo, Temon, Wates (Kulon Progo).

“Untuk yang sudah mengalami kekeringan ekstrem (lebih dari 60 hari) meliputi Bantul, Jetis, Pajangan, Pundong (Bantul) dan Rongkop (Gunungkidul),” beber Reni.

Terpisah, Analis Kebijakan Ahli Muda Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Iswari Mahendrarko menyampaikan, sudah menyiapkan langkah antisipatif menghadapi kemarau dengan menyiagakan Pos BPBD Tegal Turi dan Tim Reaksi Cepat selama 24 jam.

Baca Juga: Tak Merokok hingga Jaga Kebersihan, di Candi Borobudur Sebanyak 2.045 Umat Praktik Langsung Ajaran Buddha

Meski secara geografis Kota Jogja memiliki potensi rendah dampak kekeringan, kondisi di musim kemarau dapat memicu bencana seperti kebakaran lahan akibat vegetasi yang mengering.

“Tim akan mempercepat penanganan apabila terjadi keadaan darurat,” imbuhnya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
Karst Gunungkidul Rawan Kekeringan Kemarau lebih panjang cadangan air bmkg yogyakarta