Apel pengamanan petugas kepolisian jelang rangkaian peringatan saparan Ki Ageng Wonolelo. (Dokumentasi Polresta Sleman)
SLEMAN - Beredar video di media sosial peristiwa kericuhan yang terjadi dalam peringatan saparan Ki Ageng Wonolelo di Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman pada Sabtu (25/7) malam. Terlihat sejumlah orang saling berteriak dan mendorong, sementara lainnya mendokumentasikan kejadian. Sementara latar belakang video tersebut memberikan imbauan agar masyarakat bisa kembali kondusif.
PS. Kasihumas Polresta Sleman Iptu Argo Anggoro menjelaskan, peristiwa terjadi saat hiburan musik dangdut dalam rangka Upacara Adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo. Saat itu sempat terjadi keributan akibat kesalahpahaman antarpenonton. Lalu untuk menjaga keamanan dan ketertiban, panitia bersama aparat kepolisian menghentikan acara sekitar pukul 22.35 atau sekitar 30 menit sebelum selesai.
"Salah pahammya karena biasa, saling senggol saja," katanya dihubungi, Minggu (26/7).
Dia sebut dalam acara dangdutan memang sering terjadi keributan karena hal semacam ini. Atas kejadian ini dia sebut petugas segera mengendalikan situasi dan mendamaikan pihak-pihak yang terlibat di lokasi. Argo juga menegaskan bahwa tidak ada korban maupun penangkapan warga buntut peristiwa ini.
"Setelah didamaikan situasi kembali aman serta kondusif," tegasnya.
Sementara itu, Panewu Ngemplak Basuki menjelaskan, pemerintah kapanewon menyayangkan terjadinya insiden yang mengganggu jalannya kegiatan Saparan Pondok Wonolelo. Atas kejadian ini dia mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Dia menyerahkan penanganan kejadian kepada aparat yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku.
"Atas kejadian ini kami akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan kegiatan masyarakat khususnya yang melibatkan peserta dalam jumlah besar," katanya.
Dia sebut evaluasi ini mencakup aspek perencanaan, pengamanan, pengaturan arus pengunjung, dan koordinasi antarinstansi. Sekaligus langkah-langkah mitigasi risiko agar kegiatan budaya dan tradisi tetap dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan kondusif. Harapannya setiap elemen masyarakat bisa menjaga persatuan serta menjadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran bersama.
"Harapannya tradisi budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Ngemplak dapat terus dilestarikan dalam suasana yang aman dan nyaman," pungkasnya.
Upacara tradisi adat Saparan Ki Ageng Ageng Wonolelo 2026 sendiri diselenggarakan dari 10 Juli hingga 25 Juli. Acaranya terdiri dari jatilan, dangdutan, kasidah, pengajian, hingga puncaknya adalah penyebaran kue apem 1,5 ton pada Jumat (24/7) lalu. Peringatan ini dilakukan untuk mendoakan dan mengenang Ki Ageng Wonolelo. Sosok yang menyebarkan agama Islam pada masa itu. (del)