Di sudut kawasan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada, pendar diskusi akademis dan lalu lalang mahasiswa yang terburu-buru menuju ruang kelas adalah pemandangan sehari-hari. Namun, di tengah keriuhan itu, ada satu oase tenang yang konsisten hadir menyapa siapa saja dengan kehangatan yang tak biasa.
Di sanalah berdiri sebuah becak kayuh sederhana. Di atas joknya yang kusam, tidak hanya tersedia tempat untuk penumpang, melainkan jajaran buku yang tertata rapi. Pemiliknya adalah Fransiskus Xaverius Sutopo, atau yang lebih akrab dipanggil Mbah Topo. Mbah Topo adalah pensiunan PNS sejak 2003.
Jika kalian sedang berkunjung ke kawasan FISIPOL UGM, berjumpa dengan Mbah Topo dan Becak Pustakanya adalah sebuah keberuntungan kecil. Selama 22 tahun, pria sepuh ini mengayuh becaknya bukan sekadar untuk mencari nafkah, melainkan membawa misi literasi yang tulus yakni menyediakan bacaan gratis bagi siapa saja yang sudi singgah.
Langkah panjang ini dimulai dari niat yang sangat bersahaja. Pada awal perjalanannya puluhan tahun lalu, koleksi "perpustakaan berjalan" milik Mbah Topo hanya terdiri dari lima judul buku dan saat ini sudaha ada sekitar 200 buku.
Di zaman ketika layar gawai mendominasi perhatian dan buku-buku fisik makin tersisih, hadirnya Becak Pustaka Mbah Topo menjadi pengingat yang penting. Mbah Topo membuktikan bahwa menyebarkan minat baca tidak selalu membutuhkan gedung perpustakaan yang megah atau anggaran yang besar. Cukup dengan kepedulian, konsistensi, dan sepasang kaki yang tak lelah mengayuh.
Editor : Bahana.