YOGYAKARTA – Hadirnya Yogyakarta International Airport (YIA) di Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, kini menjadi kebanggaan baru bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya. Namun, di balik megahnya bangunan berkapasitas puluhan juta penumpang tersebut, terdapat rekam jejak sejarah dan transformasi panjang transportasi udara di wilayah Jogja-Solo-Semarang (Joglosemar).
Berawal dari Masalah Overcapacity Adisutjipto
Sebelum YIA berdiri, pilar utama akses penerbangan ke Yogyakarta bergantung penuh pada Bandara Internasional Adisutjipto di Maguwoharjo, Sleman. Seiring melonjaknya industri pariwisata dan ekonomi Jogja, Adisutjipto mengalami darurat kapasitas (overcapacity).
Terminal yang semula dirancang hanya untuk menampung sekitar 1,2 hingga 1,8 juta penumpang per tahun, terpaksa melayani lebih dari 7 hingga 8 juta pergerakan penumpang setiap tahunnya. Keterbatasan panjang runway di Adisutjipto juga menyulitkan pesawat berbadan lebar (wide-body) rute internasional untuk mendarat.
Baca Juga: Pertahankan Predikat PTS Terbaik Kedu, UMPWR Tembus 10 Besar PTS Terbaik di Jawa Tengah
Ditambah lagi, lokasinya dikelilingi permukiman padat serta pangkalan militer TNI AU yang membatasi ruang pengembangan.
Kondisi mendesak ini mendorong Pemerintah Pusat bersama PT Angkasa Pura I untuk merencanakan pembangunan bandara baru pengganti Adisutjipto.
Penetapan Lokasi hingga Pembangunan Kilat
Setelah melalui serangkaian studi kelayakan, wilayah pesisir Temon di Kulon Progo akhirnya dipilih karena memiliki bentang lahan datar yang luas serta bebas dari halangan penerbangan (obstacle). Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X secara resmi menerbitkan Izin Penetapan Lokasi (IPL) pada tahun 2015, dan proyek ini ditetapkan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN).
Baca Juga: KPK Sisir Rumah Pejabat hingga Sopir Mantan Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya
Pengerjaan fisik oleh kontraktor PT PP (Persero) Tbk dimulai pada pertengahan 2018. Mengingat posisinya yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, YIA dirancang ramah bencana. Struktur bangunannya dibuat sangat kokoh, sanggup menahan gempa hingga magnitudo 8,8 SR serta dilengkapi fasilitas mitigasi dan evakuasi tsunami.
Proses konstruksi terbilang sangat cepat. Pada 29 April 2019, YIA sudah mulai diuji coba secara terbatas dengan melayani penerbangan komersial perdana oleh maskapai Citilink.
Pengalihan Total dan Peresmian oleh Presiden
Tonggak sejarah penting terjadi pada 29 Maret 2020, di mana seluruh penerbangan domestik berbadan lebar dan penerbangan internasional dari Bandara Adisutjipto resmi dialihkan secara masif ke YIA. Sejak saat itu, Bandara Adisutjipto difokuskan untuk penerbangan pesawat baling-baling (propeller), penerbangan privat, dan kegiatan militer.
Baca Juga: Cetak Sejarah! Purworejo Resmi Lepas Predikat Daerah Endemis Malaria Terakhir di Jawa-Bali
Puncaknya, Presiden Joko Widodo meresmikan Bandara Internasional Yogyakarta secara langsung pada 28 Agustus 2020.
Ikon Baru dengan Khas Budaya Jawa
Kini, YIA berdiri anggun dengan landasan pacu (runway) sepanjang 3.250 meter dan lebar 45 meter—cukup untuk didarati pesawat komersial terbesar di dunia seperti Boeing 777-300ER hingga Airbus A380. Kapasitas terminalnya melambung hingga 20 juta penumpang per tahun, atau hampir 11 kali lipat dari kapasitas Adisutjipto.
Tak sekadar infrastruktur modern, interior YIA juga kental dengan nuansa seni dan budaya Nusantara. Berbagai ornamen seperti motif batik Kawung, replika Tugu Jogja, hingga instalasi karya seniman-seniman lokal menghiasi setiap sudut bandara.
Kemudahan akses penumpang makin lengkap dengan hadirnya Kereta Api (KA) Bandara YIA yang menghubungkan Stasiun Tugu Yogyakarta menuju Stasiun Bandara YIA hanya dalam kurun waktu 35 hingga 40 menit. YIA kini tak hanya menjadi sarana transportasi, tetapi juga ikon kemajuan infrastruktur yang mengokohkan Jogja sebagai destinasi wisata kelas dunia.
Editor : Heru Pratomo