JOGJA - Tingginya kunjungan wisatawan ke DIY saat akhir pekan dan musim liburan belum otomatis meningkatkan keuntungan pelaku industri pariwisata. Meski tingkat hunian hotel naik, pelaku usaha justru kesulitan menaikkan tarif karena daya beli masyarakat belum pulih dan persaingan dengan daerah sekitar semakin ketat.
Ketua DPD Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY Bobby Ardyanto Setyo Ajie mengatakan, tantangan utama pelaku industri saat ini bukan lagi mendatangkan wisatawan. Melainkan menjaga harga tetap kompetitif di tengah kenaikan biaya operasional.
"Daya beli masyarakatnya kan belum pulih 100 persen. Menjadikan kita sendiri juga mesti harus adjust di pricing-nya," ujarnya, Sabtu (1/8).
Baca Juga: Imbas Penyelewengan Dana Kalurahan Bangunkerto, Carik dan Danarta Resmi Diberhentikan
Menurut Bobby, biaya operasional usaha terus meningkat, mulai dari harga bahan bakar hingga kebutuhan operasional lainnya. Namun kondisi pasar membuat pelaku usaha tidak leluasa membebankan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen.
Kondisi ini turut diperparah dengan keberadaan jalan tol yang akan mengubah pola wisatawan. Banyak wisatawan memilih menginap di Magelang, Solo, Kulon Progo, atau Gunungkidul yang menawarkan tarif hotel lebih murah, lalu berwisata ke Jogja. Kondisi tersebut membuat hotel di Jogja tidak bisa lagi memaksimalkan kenaikan tarif saat musim liburan seperti sebelumnya.
Baca Juga: Belajar dari Bogor Atasi TBC Lintas Wilayah: Kelurahan Siaga Siap Jemput Bola Pasien Berisiko
Di tengah tekanan tersebut, Bobby menyebut tren kunjungan wisata masih menunjukkan pertumbuhan. Kunjungan wisatawan mancanegara juga mulai meningkat seiring musim libur musim panas di sejumlah negara.
"Di beberapa hotel bintang juga terlihat pergerakan wisman lumayan, grafiknya naik. Dan sampai saya pikir top-nya nanti sampai di Agustus," tandasnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova