RADAR PURWOREJO - Basuni Yusuf sopir bajaj asal Tegalrejo, Kota Jogja viral di media sosial, terima penghargaan "Driver Pahlawan Keluarga".
Kisah ini menyentuh banyak orang, ketika Basuni Yusuf tertangkap kamera sedang mengantar anaknya Andromeda Sufi Anggoro (18) kuliah ke Institut Teknologi Bandung (ITB) menggunakan bajaj.
Perjalanan Basuni bukan perjalanan singkat.
Ia menempuh rute Jogja-Bandung selama 24 jam penuh bersama istrinya, Suci Wahyuningsih (45), dan salah satu anaknya.
Keberangkatan Basuni sekeluarga ke Kota Kembang itu pada Jumat (17/7/2026) sekitar pukul 17.00 WIB.
Mereka sempat menginap semalam di Gombong, sebelum akhirnya tiba di Bandung keesokan harinya pukul 20.23 WIB.
Total bensin yang dihabiskan mencapai Rp 400 ribu untuk perjalanan pulang pergi.
Awalnya Andro sempat tidak direstui kuliah di ITB karena alasan biaya.
Basuni, mantan pemarut kelapa di Pasar Karangwaru yang kini berpenghasilan sekitar Rp 80 ribu per hari sebagai sopir bajaj sewaan, mulanya menyuruh Andro kuliah di UPN Veteran Yogyakarta lewat jalur KIP.
Baca Juga: Semester I 2026: Telkom Cetak Pendapatan Rp 75,9 Triliun dan Laba Bersih Rp 10,6 Triliun
Namun diam-diam, Andro tetap belajar otodidak lewat YouTube dan tryout online, tanpa pernah ikut bimbingan belajar karena keterbatasan biaya, hingga akhirnya lolos SNBT ke Jurusan Astronomi FMIPA ITB sebagai jurusan yang ia impikan sejak kelas X SMA.
Basuni belakangan juga mendapat apresiasi langsung dari Bajaj Indonesia berupa penghargaan bertajuk "Driver Pahlawan Keluarga", disertai bantuan tunai senilai Rp 1.500.000 dan sejumlah paket sembako, yang diserahkan langsung di kediamannya di Tegalrejo.
Penghargaan ini menarik karena datang dari produsen kendaraan yang justru menjadi "tokoh utama" kedua dalam kisah viral ini.
Bajaj yang selama bertahun-tahun jadi alat cari nafkah Basuni, sekaligus kendaraan yang membawanya menembus jarak ratusan kilometer demi mengantar mimpi anaknya.
Baca Juga: Hampir Tiap Minggu Droping Air ke Clapar I, Lima Kalurahan di Kulon Progo Terdampak Kekeringan
Bagi Basuni, penghargaan ini seolah menegaskan bahwa kendaraan roda tiga yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai moda transportasi kelas bawah, justru menjadi saksi sekaligus kendaraan literal dari perjuangan seorang ayah.
Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, menegaskan kampus berupaya memfasilitasi mahasiswa berprestasi tanpa membeda-bedakan latar belakang ekonomi keluarga.
Dalam kasus Andro, bantuan yang diberikan meliputi uang tunai Rp 5 juta untuk biaya perjalanan, sebuah laptop, beasiswa biaya hidup Rp 6 juta per semester, serta keringanan UKT menjadi hanya Rp1 juta.
Untuk menekan biaya tempat tinggal, Andro rencananya menetap di pondok pesantren mahasiswa dengan biaya sekitar Rp 3,5 juta per tahun.
Jauh lebih murah dibanding kos di Bandung yang per bulannya mencapai sekitar Rp1 juta.
Skema semacam ini penting diketahui publik luas, khususnya orang tua dari keluarga kurang mampu yang mungkin punya anak berprestasi namun ragu mendaftar ke kampus-kampus besar karena asumsi biaya yang tidak terjangkau.
Kisah Andro membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu jadi penghalang mutlak, asalkan prestasi akademik dan keberanian mencoba tetap ada.