SLEMAN - Komisi D DPRD Sleman mendorong produksi massal Detektor Makan Bergizi Gratis (MBG) karya dua siswa SMPN 1 Turi. Alat pendeteksi makanan basi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG di sekolah.
Ketua Komisi D DPRD Sleman Arif Priyo Susanto mengatakan inovasi karya Abyan Syahlefi, 15, dan Pradipta Widhi Nugroho, 14, itu layak dikembangkan agar dapat dimanfaatkan seluruh sekolah di Kabupaten Sleman. DPRD akan berkoordinasi dengan dinas pendidikan dan badan perencanaan pembangunan daerah (Bappeda) untuk menyiapkan langkah pengembangan, termasuk dukungan anggaran.
"Ini merupakan sebuah inovasi baru dan penemuan yang luar biasa," katanya saat meninjau alat tersebut di SMPN 1 Turi Rabu (5/8).
Dalam uji coba, detektor mampu membedakan makanan segar dan makanan basi hanya dalam waktu sekitar lima detik. Hasil pemeriksaan ditampilkan melalui telepon genggam. Sampel makanan segar menunjukkan status "Aman", sedangkan makanan basi terdeteksi dengan keterangan "Makanan Basi Terdeteksi".
Menurut Arif, alat tersebut penting sebagai langkah antisipasi untuk memastikan makanan yang diterima siswa benar-benar layak dikonsumsi. Sebab, sekolah tidak dapat mengawasi proses produksi makanan yang disiapkan masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Selain mendorong penyempurnaan teknologi, DPRD juga akan mengupayakan perlindungan hak kekayaan intelektual agar hak paten tetap menjadi milik kedua siswa sebagai penemu. "Anggaran produksi dari pemkab kami dorong bersama. Nanti anak-anak sini yang membuat alat atau prototype-nya," ujarnya.
Arif juga membuka peluang pemberian beasiswa atau bentuk apresiasi lain bagi kedua siswa. Menurutnya, Pemkab Sleman perlu memberi dukungan lebih besar terhadap sekolah berbasis riset agar mampu melahirkan lebih banyak inovasi.
Kepala Sekolah SMPN 1 Turi Hospita Henny Koerniati menyambut baik rencana tersebut. Ia berharap hak paten atas inovasi itu lebih dahulu diselesaikan sebelum alat diproduksi dan dimanfaatkan sekolah lain. "Kami berharap inovasi ini dapat memberi manfaat lebih luas bagi dunia pendidikan," katanya.
Detektor MBG menggunakan sensor MQ-135, MQ-3, TCS3200, DHT11, ESP32, serta kipas penstabil suhu. Penggunaannya diawali dari sampel makanan yang diletakkan di dalam boks lalu alat dihubungkan dengan WiFi dari gadget. Dalam waktu singkat hasil akan muncul dengan sejumlah indikator, seperti kelembapan, suhu, hingga pestisida. Sistem yang dibuat sudah dilengkapi standar aman maksimal untuk tiap-tiap indikator. Jadi, pengguna akan tahu apakah makanan yang akan dikonsumsi aman atau tidak. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Nova