Dishub DIY Bantah Becak Listrik Rakitan 2023 Cacat Produksi, tapi Justru karena Kesalahan Ini

Rizky Wahyu Arya Hutama • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 20:24 WIB
Becak listrik yang dihibahkan oleh Pemprov DIJ kepada tiga koperasi becak wisata sejak Jumat (5/4) mulai digunakan.
Becak listrik yang dihibahkan oleh Pemprov DIJ kepada tiga koperasi becak wisata sejak Jumat (5/4) mulai digunakan.

JOGJA - Dinas Perhubungan (Dishub) DIY membantah tegas tudingan kegagalan produksi pada puluhan unit becak listrik (betrik) rakitan 2023. Masalah utama disinyalir berakar dari minimnya perawatan mandiri, penyalahgunaan medan jalan, hingga culture shock eks pengemudi becak motor (bentor).

Kepala Bidang Angkutan Dishub DIY Wulan Sapto Nugroho mengatakan, becak listrik 2023 merupakan proyek percontohan yang melalui proses panjang sebelum diproduksi massal. Itu bukanlah produk gagal, karena masih pada tahap awal uji coba.

"Jadi bukan merupakan kegagalan produk," katanya, Jumat (7/8/2026).

Baca Juga: Truk KDMP Dipakai untuk Angkut Tebu, Pemkab Sragen Buka Suara

Meski begitu, Sapto menyebut saat ini masih ada kendala dalam becak listrik tersebut. Masalah justru muncul dari eks pengemudi bentor yang membandingkan performa becak listrik dengan kendaraan bermesin. Kecepatan yang tak sepadan serta konstruksi yang berbeda memicu protes.

Tak sedikit pengemudi enggan melakukan perawatan rutin pasca-hibah, padahal beban pemeliharaan telah dialihkan sesuai naskah perjanjian hibah daerah (NPHD).

"Ini becak listrik wisata untuk jalan datar, bukan becak beban. Ada pengemudi yang rumahnya di Bantul atau Kulon Progo, lalu dibawa pulang lewat jalan naik-turun. Ya jelas kendala. Begitu ada biaya servis, ditinggal," cetusnya.

Baca Juga: Dipasang Garis Polisi, Penyidik Angkut Dokumen dan Perangkat Elektronik dari Kantor BMT Alfa Dinar Karangpandan Karanganyar

Catatan evaluasi ini diakui Sapto sudah ditindaklanjuti pada unit pengadaan 2024 yang kini disematkan fitur shockbreaker. Di luar urusan armada, kesiapan infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) masih menjadi ganjalan besar menuju target Malioboro full pedestrian pada November 2026.

Dishub DIY baru menyediakan satu titik SPKLU di Area Parkir Ketandan berkapasitas lima unit. Jumlah ini amat timpang dibanding populasi becak listrik yang kini menembus angka 300 unit.

Masalah juga semakin rumit akibat ulah oknum pengemudi yang menjadikan tempat charge sebagai lokasi parkir inap.

"Mengecas sambil ditinggal pulang sampai sore, padahal idealnya paguyuban punya pool sendiri. Ke depan titik pengisian akan ditambah di Parkir Senopati," bebernya.

Baca Juga: Hakim Praperadilan Raudi Akmal Dilaporkan ke Komisi Yudisial, Pelapor Soroti Tiga Kejanggalan selama Proses Persidangan

Sementara, Ketua Paguyuban Becak Wisata Jogja Paimin menyebut armada di bawah naungannya justru nihil kendala fatal. Kuncinya ada pada perawatan preventif dan kolaborasi mekanik lokal.

"Tempat saya tidak ada masalah. Sebelum rusak berat, langsung diperbaiki supaya biayanya tidak membengkak. Yang penting dirawat," ucapnya.

Meski begitu, Paimin tak menampik jika sejauh ini tetap ada keluhan teknis. Sebab, varian bantuan dari UGM dinilai terlalu berat jika baterai habis dan harus dikayuh manual.

Baca Juga: Baru Enam Bulan Beroperasi, KKMP Demangan Kota Jogja Bukukan Omzet Rp 139 Juta

Sementara unit rakitan SMKN 3 Jogja yang baru meluncur di Sasana Hinggil dinilai memiliki laju yang terlalu lambat untuk jarak pendek.

"Barangnya sudah saya coba, bagus. Cuma yang sudah berjalan peluncurannya kemarin mengeluh tidak bisa berjalan cepat. Kalau becak terlalu lambat untuk pencarian jarak dekat ya rugi waktu," tambahnya. (ayu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
betrik cacat produksi kurang perawatan dishub diy becak listrik